Perpustakaan Al-Hambra

Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia


Latest Updates

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-11-03

Kata bui atau penjara berasal dari bahasa Belanda. Ini foto seorang Pejabat Belanda sedang melakukan kunjungan ke sebuah Bui di Wonosobo, Keresidenan Bagelen Jawa Tengah. Sumber : Geheugen van Nederland/Perpusnas.

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-10-28

Perpustakaan Universitas Pennsylvania memposting kitab2 amazing karya ilmuwan Arab. Salah satunya adalah Qāmūs al-muḥīṭ, sebuah kamus Arab yang ditulis di Persia barat, pada abad ke-15, oleh Fīrūzābādī, Muḥammad ibn Ya'qūb.

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-10-23

Barangsiapa berjalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-10-22

Siapakah orang Indonesia pertama yang menyandang gelar Professor. Ini bukan professor kehormatan atau Honoris Causa. Tetapi Professor dan guru besar di bidang Ilmu Hukum pada sekolah Hakim Tinggi di Weltevreden. Orang yang pertama tersebut bernama Professor Dr. R. A Husen Jajadiningrat. Husen Jajadiningrat menjadi professor pada usia 38 tahun. Beberapa buku hasil tulisannya: Babad Atjeh (1910); Critische beschouwingen over den Sadjarah Banten; Proeve van oudegeschiedschrijving; Woordenboek bahasa Atjeh (1914). Sumber: Bintang Hindia, 1924. Koleksi Perpustakaan Nasional RI ( Atk)

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-10-06

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. (Umar bin Khattab)

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-08-03

Sewaktu kecil, ia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh dan guru-guru tidak sanggup mengajarnya. Ia bertanya kepada ibunya, "Kenapa aku dikeluarkan?" Sang ibu memberi makna baru yang memberdayakan, "Kamu terlalu jenius. Sekolah tidak sanggup mengajarmu. Biar ibu saja yang mengajarmu." Anak ini tetap belajar walaupun di rumah. Kelak, anak ini menjadi salah satu penemu paling berpengaruh di abad modern... Positiflah. Optimislah. Share ya...

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-07-12

PEMIMPIN AMANAH Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M. Phil Pendiri dan Pembina INSISTS Konon dulu pemimpin atau raja-raja pada abad Pertengahan di Barat adalah seorang bishop. Pemimpin politik adalah agamawan. Mereka dipilih setelah diketahui umum bahwa mereka berasal dari tujuh turunan keluarga yang tidak cacat moral. Namun, hingga abad 19 kreteria pemimpin seperti itu mulai pudar sehingga sulit diperoleh. Tidak ada lagi pemimpin bermoral bishop dan tidak ada bishop berkualitas politisi. Agama dan politik pun bercerai. Sejalan dengan denigrasi agama di abad sekuler dan boleh jadi dipicu oleh pikiran Niccolò Machiavelli (1469–1527) abad 19 dianggap awal pencarian kriteria pemimpin ideal tanpa faktor agama. Thomas Carlyle, misalnya, menulis buku Heroes and Hero Worship (1841) untuk mengidentifikas bakat, skill dan ciri-ciri fisik orang yang menjadi penguasa. Francis Galton dalam bukunya Hereditary Genius (1869) menguji kualitas pemimpin pada keluarga-keluarga orang berpengaruh. Ia menemukan bahwa keluarga pemimpin berbakat pemimpin. Artinya pemimpin itu dilahirkan. Namun, ini dibantah oleh teori Cecil Rhodes (1853-1902) yang masih percaya bahwa karakter dan instink peimimpin itu bisa dididik. Tapi sekalipun karakteristik pemimpin ditemukan (tahun 1940-an) namun suatu kriteria tidak bisa berlaku untuk semua jenis masyarakat. Untuk itu para pakar menggunakan teori yang telah dirintis oleh McGrath (1962) teori Functional Leadership Model. Pemimpin ini dipilih sesuai dengan yang dikehendaki rakyat atau organisasi yaitu untuk melayani. Pada abad yang sama Bernard Bass (1978) mengembangkan teori yang disebut Transactional dan transformational leadership. Yang pertama adalah pemimpin yang diberi kekuasaan oleh kelompok atau rakyat untuk mengerjakan suatu tugas tertentu. kedua adalah pemimpin yang visioner yang bertugas menstimulasi dan menanamkan visi kepada rakyat. Bagaimanapun teori tentang kepemiminan hingga abad 21 ini masih gagal menemukan rumusan sifat-sifat ideal seorang pemimpin. Kini sering terjadi tiba-tiba seorang pemimpin muncul atau terpilih diluar kriteria pemimpin. Politik dan politisi kini menjadi pemilik criteria, bukan pakar. Intelektualitas, nilai-nilai, kecakapan sosial, kepakaran dan kecakapan dalam problem solving dan mungkin juga kenegarawanan seiringkali absen dari diri pemimpin terpilih. Kepentingan politik pun berada didepan sebagai penentu. Maka mungkin putus asa dengan criteria ideal pemimpin, Oxford School Leadership menemukan teori baru kepemimpinan yang disebut Neo-emergent theory. Dalam teori dianggap paling mutakhir ini pemimpin itu dipromosikan oleh informasi yang diciptakan oleh stakeholdernya melalui media masa atau media social. Namun yang dipromosikan bukan karakter sesungguhnya dari pemimpin yang diinginkan, tapi untuk mengangkat popularitas dan elektabilitas. Teori ini digambarkan sebagai berikut: “the press, blogs and other sources report their own views of leaders, which may be based on reality, but may also be based on a political command, a payment, or an inherent interest of the author, media, or leader. Therefore, one can argue that the perception of all leaders is created and in fact does not reflect their true leadership qualities at all.” Teori Neo-emergent itu mungkin bisa disebut teori pencitraan atau pemimpin ala media masa atau social (sosmed). Demokrasi bisa berubah menjadi mediakrasi (kuasa media). Media pun sudah dibawah petunjuk kekuatan politik, pemodal, konglomerat dan sebangsanya. Logika postmodern memang tidak lagi memakai sillogisme, tapi bahasa dan makna penentu segalanya. Maka tidak heran Akbar S Ahmed menyimpulkan bahwa ide-ide postmodernisme dipicu oleh media. Media bisa bermain-main dengan makna. Koruptor bisa tiba-tiba menjadi pelopor. Culas bisa menjadi lugas dan tegas. Tukang maki menjadi pemimpin bernyali. Pakar barter menjadi berkarakter dan sebagainya. Logika bahasa Postmodern dalam media diracik dengan faham humanisme menghasilkan pemimpin yang unik. Pemimpin yang keras meledak-ledak, aneh-aneh dan dianggap gila itu pemimpin berkarakter. Berkarakter dianggap bermoral dan berakhlaq. Kata character sendiri bermasalah sebab ia sifat yang dimainkan seorang aktor dalam sebuah sandiwara, drama atau lakonan. Berkarakter bisa diartikan ber “peran” dan bukan suatu sifat yang melekat erat dalam diri. Sifat inilah yang diletakkan oleh media kepada seseorang yang akan didaulat sebagai pemimpin. Bahkan bermoral pun bermasalah pula. Dalam Oxford English Dictionary moral adalah perilaku baik-buruk. Standar baik buruk itu bersumber dari kesepakatan manusia (human convention). Bahkan apa yang disebut “hukum moral” atau dharma dalam agama Hindu juga berasal dari kebiasaan sosial. Maknanya moral dan etika menjadi longgar. Jadi ber-moral artinya berperilaku sesuai dengan aturan masyarakat, dan tidak selalu religius. Kata akhlaq serumpun dengan khalaqa (menciptakan). Artinya adalah sifat jiwa yang melekat (malakah) dalam diri seseorang sesuai dengan asal mula diciptakannya (ahsanu taqwim). Jiwa manusia itu diciptakan Allah dengan fitrah-Nya (fitratallah alliti fatarannas alaiha). Maka ber-akhlaq adalah berfikir, berkehendak dan berplerilaku sesuai dengan fitrah (nurani) nya. Fitrah seseorang itu adalah bertuhan, beragama dan tentu berislam. Seorang yang tidak percaya kepada Tuhan mustahil bisa berbuat adil. Sebab kekafiran sendiri sudah merupakan kezaliman pada diri sendiri. Jika seorang kafir merasa lebih baik dari penganut agama hanya karena tidak korupsi, akan orang baik tapi penipu, pemeras, pezina, pembunuh dan bahkan penentang Tuhan. Pemimpin yang tegas, keras menindak pelanggaran, berani dengan siapapun yang dianggap salah, berani mengambil resiko dan sebagainya boleh saja dianggap berkarakter. Tapi ketika ia membolehkan perjudian, pelacuran, menuman keras sebagai sumber APBD, dan berani mencemooh ulama yang tidak setuju dengannya ia sudah tidak ber-akhlaq, meskipun tetap berkarakter. Matrik pemimpin berakhlaq bukan lagi manusia, tapi Tuhan melalui agama. Puncak berakhlaq adalah bersikap adil terhadap Tuhan dan terhadap manusia. Artinya meletakkan dirinya sebagai hambaNya, beribadah, berbuat baik karena dan atas petunjuk Tuhan. Adil terhadap manusia adalah membimbing, memperlakukan dan mengatur manusia agar terjaga hartanya, jiwanya, akalnya, keluarganya dan terakhir agamanya. Jadi untuk menyelesaikan persoalan bangsa secara komprehensif tidak ada jalan lain kecuali kita letakkan agama untuk menjaga kemaslahatan manusia dan kita sujudkan maslahat manusia untuk Tuhan. Maka dari itu perbuatan, perkataan dan pikiran pemimpin, kata Umar bin Khattab, harus sama. Itulah amanah. Jika tidak maka dia khianat dan pengkhianatan paling keji, manurut Ali bin Abi Thalib adalah pengkhianatan pemimpin.

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-07-10

Purworejo, Calon Ibu Kota Hindia-Belanda yang Terlupakan Akhir-akhir ini, wacana mengenai pemindahan ibukota Republik Indonesia mulai menghangat kembali. Wacana pemindahan ibukota sebenarnya sudah ada sejak zaman Presiden Sukarno, dimana beliau memilih Palangkaraya , Kalimantan Tengah sebagai ibukota baru RI. Sebelum itu pemerintahan kolonial Belanda juga membuat rencana untuk memindahkan ibukota Hindia-Belanda dari Batavia ke Bandung yang akhirnya gagal terlaksana akibat kurangnya dana dan ekspansi Jepang. Namun jauh sebelum Bandung dipilih sebagai calon ibukota, rupanya pemerintah kolonial sempat merencanakan sebuah kota kecil di Jawa Tengah bagian selatan sebagai calon pusat pemerintahan Hindia-Belanda. Kota yang nyaris menjadi ibukota itu adalah kota Purworejo. Dalam buku De Indisch Stad op Java en Madoera( 1990 ) tulisan Ronald G.Gill, wacana pemindahan ibukota pemerintah kolonial dari Batavia ke Purworejo pertama kali dicetuskan oleh Von Gagern, seorang jenderal militer Belanda pada tahun 1844. Belajar dari jatuhnya Batavia pada Invasi Inggris ke Jawa pada tahun 1811, militer Belanda menyarankan untuk menggeser ibukota mereka ke wilayah pedalaman, sehingga ibukota tidak mudah diserang musuh dari laut mengingat angkatan laut Belanda pada waktu itu terhitung lemah. Alhasil, kota-kota pelabuhan besar di pesisir utara seperti Semarang atau Surabaya jelas bukan menjadi pilihan. Lalu mengapa yang dipilih Purworejo ? Purworejo merupakan kota yang strategis. Di utara Purworejo terhubung dengan kota Magelang yang memiliki garnisun militer cukup besar yang bisa dikembangkan sebagai pangkalan militer utama Belanda dan sebagai garis pertahanan apabila musuh menyerang dari utara. Jika dirasa masih kurang, Belanda bisa saja membangun benteng-benteng di sepanjang perbukita Menoreh. Kemudian di barat, Purworejo terhubung dengan Cilacap, satu-satunya pelabuhan besar di pantai selatan yang bisa menjadi titik evakuasi pemerintah Belanda dan kalau perlu dikembangkan sebagai pangkalan angkatan laut Belanda. Di timur, terdapat Vorstenlanden ( wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta ) yang memiliki banyak perkebunan-perkebunan besar yang menyumbang devisa besar untuk kas pemerintah kolonial. Pertimbangan lainnya adalah iklim Purworejo yang tidak terlalu panas dan dingin sehingga kondisi lingkungannya lebih sehat dibandingkan Batavia dan masih tersedia lahan yang cukup luas untuk dibangun gedung dan permukiman baru. Jika misalnya Purworejo menjadi ibukota Hindia-Belanda dan negeri Belanda diduduki oleh musuh, maka Ratu atau Raja Belanda akan diungsikan ke Purworejo. Dengan demikian, Purworejo menjadi istana baru kerajaan Belanda. Mungkin bisa dibayangkan bagaimana kira-kira rupa Purworejo jika seandainya menjadi pusat pemerintahan Belanda. Di sekitar alun-alun, mungkin akan berdiri berbagai bangunan pemerintahan kolonial yang megah. Permukiman elite Belanda ala Menteng mungkin akan terdapat di selatan atau barat kota. Kemudian di sepanjang jalan kota akan terpasang jalur-jalur trem. Ya, jika rencana itu terwujud, tentunya wajah Purworejo akan lebih semarak dibandingkan wajah Purworejo yang sekarang. Seiring berjalannya waktu, pemerintah kolonial kemudian melirik kota lain yang terlihat memiliki potensi lebih untuk menjadi ibukota baru Hindia-Belanda. Akhirnya, Bandung yang menjadi pilihan. Segera setelah itu, peran Purworejo mulai dilupakan. Tragisnya, setelah dilupakan sebaga calon ibukota, Karesidenan Bagelen dilebur dengan Kedu sehingga Purworejo tidak lagi menjadi ibukota Karesidenan dan akhirnya hanya menjadi kota biasa sampai sekarang. Wacana Purworejo menjadi ibukota Hindia-Belanda tidak banyak dicatat dalam banyak buku pelajaran sejarah Indonesia. Orang lebih mengenal Bandung sebagai calon ibukota Hindia-Belanda dan memori Purworejo sebagai bakal pusat pemerintahan Hindia-Belanda tergerus oleh waktu. --- Referensi Gill, Ronal. G. 1990. De Indische Stad op Java en Madoera. Delft : TU Delft. http://www.kompasiana.com/lengkongsanggar/purworejo-calon-ibu-kota-hindia-belanda-yang-terlupakan_5960d6f9f133446e49370a52 #Purworjo #Ibukota #Jakarta #PusatKota #Presiden

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-07-08

MISTERI GONTOR Oleh: Mutawakkil Abu Ramadhan Di Gontor,setiap santri yang baru masuk akan mengikuti proses pengenalan pondok secara komprehensif agar mereka benar benar mengerti apa tujuan mereka datang ke Gontor. Salah satu stressing point pengenalannya adalah motivasi berdirinya Pondok Modern Gontor 90 tahun yang lalu. Gontor sebenarnya adalah nama dari sebuah desa,awalnya adalah desa biasa yang jauh dari ajaran agama, lalu berdiri sebuah pesantren, pesantren ini sempat berkembang namun meredup karena banyak faktor, pesantren ini disebut sebagai "Gontor lama". Setelah munculnya generasi baru kakak beradik yaitu Zainuddin Fanani,Ahmad Sahal dan Imam Zarkasyi mereka bersatu membangun Gontor baru hingga bertransformasi menjadi sebuah "merk" yang menasional yang memiliki reputasi tersendiri dalam dunia pendidikan Islam. Gontor baru kini dijuluki dengan "Pondok Modern Gontor" Hal yang paling berkesan dalam diri saya sejak dulu baru masuk Gontor diumur 12 tahun adalah termotivasinya para pendiri Gontor modern oleh keruntuhan khilafah Utsmaniyah di Turki.Awalnya pendiri Gontor menjadi salahsatu anggota delegasi umat Islam Jawa (saat itu Indonesia belum berdiri) dalam konferensi umat Islam pasca keruntuhan khilafah Utsmaniyah di Cairo Mesir. Dalam konferensi itu dibahas siapa yang berhak meneruskan khilafah umat Islam setelah Turki, maka terjadilah perdebatan dan tarik menarik yang sengit antar negara negara Islam yang masing masing mengklaim merekalah yang paling pantas meneruskan khilafah. Disitulah pendiri Gontor prihatin dan melihat fenomena yang menyedihkan itu sebagai cermin terbelakangnya umat Islam secara pendidikan dan wawasan. Para peserta konferensi itu tidak fokus ke visi keumatan dan keislaman namun justru mengobarkan fanatisme dinasti kerajaan,fanatisme kelompok, bangsa dan golongan. Ini terjadi karena umat Islam selama ini terlena dan akhirnya kalah segalanya dari bangsa barat. Selain wawasan dan pendidikannya terbelakang banyak dari orang Islam yang terdidik secara barat berpikir seperti orang barat bukan seperti seorang muslim. Para pendiri Gontor inipun membulatkan tekad berupa "oleh oleh besar" dari konferensi umat Islam di Mesir bagi umat Islam di Jawa,"oleh oleh" itu adalah pendidikan Islam yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Visinya itu tercermin dari mewajibkan santri agar menguasai bahasa Arab dan Inggris, materi pelajaran agama yang modern yang sesuai dengan perkembangan zamannya, pakaian guru dan santri yang modern, prinsip keihklasan pengurus pondok yang benar benar tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari pondok, disiplin yang semi militer, tidak berafiliasi dengan partai politik dan golongan masyarakat manapun ditanah air Jadi karakteristik pendidikan di Pondok Modern Gontor ini benar benar mencerminkan pandangan dan kuatnya sensitivitas wawasan para pendirinya terhadap dinamika umat ditingkatkan regional maupun internasional. Bebas dari ikatan golongan ditanah air bukan berarti Gontor mendirikan aliran atau golongan baru ditanah air, Gontor malah mendorong para alumnus untuk berperan di masing masing golongan dikampung halamannya. Inilah yang dimaksud dengan motto Gontor yang berbunyi : "berpikiran bebas". Maknanya, alumni Gontor tidak boleh berpikir sempit dan terjajah oleh golongan dan kepentingan sempit seperti apa yang para pendiri Gontor alami saat mengikuti konferensi umat Islam pasca keruntuhan khilafah Utsmaniyah di Turki. Ada yang salah paham bahwa "berpikiran bebas" cenderung kearah liberalisme. Terinspirasinya pendirian Gontor modern oleh keruntuhan khilafah Utsmaniyah di Turki bukan berarti Gontor memiliki misi untuk mendirikan khilafah ditanah air. Para pendiri melihat fenomena itu murni sebagai sosok pendidik umat, mereka ingin merubah umat Islam menjadi lebih berkarakter, maju,berbaur dan berperan dalam memerdekakan bangsa ini yang kelak menjadi embrio berdirinya Republik Indonesia. Perdana Menteri pertama Indonesia pasca kemerdekaan adalah alumni Gontor (KH Idham Cholid) yang sangat direstui oleh kiayi Gontor. Oleh karena itu,selama dididik di Gontor,para santri harus lepas dari ikatan politik apapun, dan para pengurus pondok dilarang keras untuk mengikuti kegiatan dan aktivitas politik apapun hingga detik ini. #Gontor #Kebangkitan #SejarahNasional

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-07-08

Belajar menanamkan jiwa sosial. Silahkan di tonton & dibagikan.

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-06-25

Kupat/Ketupat Pertama Kali diperkenalkan oleh Sunan Kali Jaga Pada masyarakat di Pulau Jawa hingga kini menjadi tradisi turun menurun di Nusantara.

@Perpustakaan Al-Hambra 2017-05-18

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― Mohammad Hatta “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” ― Milan Kundera “Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.” ― Ali bin Abi Thalib "Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya." —Samuel Butler "Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak hal yang akan kamu ketahui. Semakin banyak kamu belajar, semakin banyak tempat yang akan kamu kunjungi.” —Dr. Seuss


See more learning institutes near Wilayah

About

"Menghidupkan Khasanah Ilmu Pengetahuan"

Parking

Lot Parking No
Street Parking No
Valet Parking No

Suggestions

SMA Negeri 1 Wonosobo

Jl. T. Jogonegoro Km. 2, Jaraksari, Kecamatan Wonosobo
High School

SD Negeri 3 Gadingrejo

Munggangsari 844 Desa Gadingrejo Kecamatan Kepil Kab. Wonosobo
Elementary School

SMK Gema Nusantara Wonosobo

Jl. Masjid No.13
High School

TPQ AL-Himub pagedangan

pagedangan,tumenggungan selomerto,wonosobo
Education

Gerakan Pemuda Pemudi Indonesia


Community Organization, College & University, School

Sekolah Kepemimpinan Prophetic Leadership Center PLC

wonosobo
Education, Non-Governmental Organization (NGO)

9D

PATKER
Education

Sdenso

Jl. Bhanyangkara No. 14 Wonosobo
School

smk 1 wonosobo

Jl. Bhayangkara No. 12 Wonosobo 56311
High School

SMK Negeri 2 Wonosobo

Desa Wisata Gyanti Kadipaten
High School

Kantor Perpustakaan Kab. Wonosobo

Jl. Pemuda No.4
Library, Public Service, Public Utility Company

Ponpes Al Falah Kalisuren Kertek Wonosobo

komplek masjid Al Umdah Kalisuren Kertek Wonosobo
Cottage, High School, Elementary School


Privacy Policy