Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon

Jl. KH. Syathori No. 10 Arjawinangun, Cirebon 45162


Latest Updates

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-10-31

Dunia ini adalah persinggahan atau (tempat transit), bukan tempat menetap. Manusia adalah pengelana/pengembara. Persinggahan pertamanya adalah di dalam liang lahat (kuburan). Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-10-03

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ya Allah dengan ridho dan rahmat-Mu perkenankanlah kami menyelenggarakan syukuran pernikahan putra-putri kami NELA NAYILAH AUTHAR (Putri Kedua KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidillah Sy. & Hj. Fuaidiyah dengan MUHAMMAD IQBAL (Putera Pertama KH. Aminuddin & Hj. Siti Sofiah) Resepsi Pernikahan: Minggu, 15 Oktober 2017 / 25 Muharram 1439 H Pukul 10.00 WIB Bertempat di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun-Cirebon Akad Nikah: Telah dilaksanakan pada hari Senin, 18 September 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara berkenan hadir untuk memberikan doa. Atas kehadirannya kami haturkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-07-13

Sedikit informasi untuk SMP Plus Dar Al Tauhid . Arjawinangun, Cirebon.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-07-13

Sedikit informasi MA Nusantara . PP Dar Al-Tauhid , Arjawinangun Cirebon.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-24

Perincian biaya pendaftaran Madrasah Diniyah Dar Al Tauhid . Th 2017-2018 .

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-23

Beberapa informasi dan Perincian biaya daftar ulang bagi santri lama PP Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, tahun ajaran 2017 - 2018 . Terimakasih #santribaruDT17

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-23

Assalamualaikum Wr.Wb Berikut ini adalah perincian biaya dan beberapa informasi mengenai pendaftaran santri baru PP Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, tahun ajaran 2017-2018 . Ket : - Jumlah yang tertera di akhir, belum menyertakan biaya pendaftaran Madrasah Diniyah Dar Al-Tauhid yang wajib diikuti setiap santri. (Informasinya akan kami umumkan) - Bagi yang berminat mendaftarkan di MA Nusantara atau SMP Plus Dar Al-Tauhid, akan kami umumkan juga informasinya. #santribaruDT17

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-05-30

Inna Lillah wa Inna ilaih Rajiun. Telah meninggal dunia, Dewan Pengasuh PP. DT. arjawinangun cirebon, Prof. Dr. KH. A. Chozin Nasuha, hari ini Selasa, 30/05/17...4 Ramadhan 1438H, jam 17.00.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-11-14

Dapatkan update terbaru pemikiran-pemikiran KH. Husein Muhammad melalui aplikasi Android. https://play.google.com/store/apps/details?id=com.apps.buyahusein

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-11-07

“Aku telah menjual ruhku dalam ruang sirkuit rindu-dendam yang menderu-deru. “Isyq” (rindu dendam) adalah makananku, tanpa itu aku akan mati. Jangan takdirkan aku tanpa rindu-dendam kepada Layla. Duhai Tuhan, tuangkan air bening rindu. Cemerlangkan mataku dengan celak hitam selamanya. Duhai Tuhan, tambahkan aku rindu kepadanya. Bila umurku pendek, tambahkan rindu itu kepadanya. Duhai Tuhan, tambahkan rinduku kepada Layla, dan jangan biarkan aku melupakan dia selama-lamanya.”

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Mengikuti adalah Memahami Maksudnya Seluruh kaum muslimin di manapun dan kapanpun meyakini dengan sesungguh hati bahwa Sunah Nabi Muhammad adalah sumber utama kedua, sesudah al-Qur’an, bagi segala pikiran dan tindakan dalam kehidupan mereka. Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang memerintahkan kaum beriman untuk mentaati Rasul-Nya. Dalam salah satu ayat al-Qur’an dinyatakan bahwa mentaati Rasul Allah adalah sama dengan mentaati Allah. : مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا “Barangsiapa mentaati Rasul, maka dia, sungguh, juga, mentaati Allah Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga mereka.(Q.S. al-Nisa,[4]:80) Nabi juga menyatakan : مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ “Barangsiapa mentaatiku, maka dia sungguh telah mentaati Allah. Siapa yang mencintaiku, maka Allah mencintainya”. Hal ini karena Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang ditugaskan untuk menjelaskan apa yang diwahyukan Allah. Al-Qur’an menyatakan : وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan”. (Q.S. al-Nahl, [16]:44). Akan tetapi bagaimanakah cara kita mengikuti Nabi ?. Imam al-Ghazali, menjelaskan dengan indah persoalan ini, sesuai dengan petunjuk ayat di atas. إذا قلد صاحب الشرع فى تلقى أقواله وأفعاله بالقبول فينبغى أن يكون حريصا على فهم أسراره . فإن المقلد انما يفعل الفعل لان صاحب الشرع فعله وفعله لا بد وان يكون لسر فيه فينبغى أن يكون شديد البحث عن أسرار الاعمال والاقوال . فإنه إن اكتفى بحفظ ما يقال كان وعاء للعلم ولا يكون عالما. ولذلك يقال : فلان من أوعية العلم. (إحياء علوم الدين 1 ص 78.) “Jika seseorang menyatakan diri mengikuti Nabi, baik dalam ucapan maupun tindakannya, maka seyogyanya dia mempunyai keinginan kuat untuk memahami rahasia (maksud yang terkandung) di dalamnya. Dia tentu melakukan hal itu karena Nabi melakukannya. Dan beliau melakukan tindakan itu tentu karena ada maksudnya. Maka seyogyanya dia (pengikut) berusaha dengan sungguh-sungguh mengkaji kandungan-kandungan (maksud-maksud) dari apa yang diucapkan dan dikerjakan beliau. Bila dia hanya menghafalnya, maka dia hanyalah wadah dari pengetahuan dan bukan seorang yang mengerti (alim/ulama). Orang Arab mengatakan : “Fulan min Au’iyah al-Ilm” (Si Fulan adalah wadah ilmu). (Imam al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, I/78). http://huseinmuhammad.net/mengikuti-adalah-memahami-maksudnya/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (5): Sang Zahid Sering Tak Punya Uang Kisah-Kisah Tak Punya Uang Dulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya dia, beberapa tahun membantu di rumah Kiyai Fuad Amin (alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU. Surahman pernah bercerita kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani (melayani) Gus Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan umatnya di daerah-daerah ; ada pengurus NU, Kiyai, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain. Surat-surat itu dibacanya satu per satu. Kebanyakan isinya adalah permohonan bantuan dana untuk keperluan yang beragam, baik untuk fasilitas organisasi, pembangunan masjid, mushalla, madrasah, pesantren atau untuk diri sendiri dan keluarganya yang sedang kekurangan biaya hidup. Gus Dur membacanya satu persatu dengan teliti. Ia lalu mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkannya. Kemudian ia menulis dengan tangannya sendiri. Di dalamnya ia menuliskan angka rupiah tertentu. Gus Dur mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Gus Dur lalu memanggil Surahman dan memintanya membawa pos-pos wesel itu ke kantor Pos dan mengirimkannya ke alamatnya masing-masing. Bersama dengan kartu-kartu pos wesel itu Gus Dur juga menyerahkan uangnya. Saat itu tidak ada orang lain di situ, kecuali dirinya (Surahman). Pengurus PBNU yang lain tak pernah tahu soal yang satu ini. Jika kemudian ada yang tahu, maka pastilah dari mulut Surahman sendiri, tidak yang lain. Bukan sekali saja Surahman diminta mengerjakan tugas pribadi tersebut, dan dia tidak tahu Gus Dur masih punya uang lagi atau tidak, sesudah itu. Adik saya, sekaligus keponakan Gus Dur; Nanik Zahiro, juga bercerita kepada saya. Dia pernah kuliah di Institute Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta, awal tahun 90 an, dengan biaya dari Gus Dur. Setiapa bulan dia datang ke PBNU untuk bertemu pamannya itu, mengambil uang kost dan biaya kuliahnya. Suatu hari dia pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga. Dia sudah minta kiriman dari ayahnya di Tambak Beras, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke Gus Dur di kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan dan mendadak. Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan: “Tunggu sebentar ya, Nan?. Saya akan seminar dulu”. Tidak lama sesudah itu beliau kembali dan menyerahkan amplop honor seminar yang masih tertutup rapat itu kepada keponakannya itu. “Ambil seperlunya saja ya?”, katanya. Nanik menerimanya dengan senang. Tetapi sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, gak apa-apa”. Suatu hari, di tengah mengaji kitab kuning, Ibu Shinta bercerita tentang keadaan keuangan organisasinya : “Puan Amal Hayati” yang makin berkurang dan tidak mencukupi untuk membiayai kegiatannya pada bulan-bulan berikutnya. Puan adalah organisasi yang didirikan tahun 2001 untuk pemberdayaan kaum perempuan pesantren. Saya ikut mendirikannya dan menjadi wakil beliau sampai hari ini. Keadaan keuangan Puan yangkembang kempis itu kemudian diketahui Gus Dur. Saya tidak tahu dari mana, tetapi sangat mungkin Ibu Shinta menceritakannya kepada beliau ketika berdua di kamar tidurnya. Tak lama setelah itu, Gus Dur, kata Ibu, segera mengambil honor artikel-artikelnya di media. Lalu uang itu seluruhnya diberikan untuk organisasi isteri tercintanya itu. Dalam laporan keuangan Puan yang kemudian disampaikan kepada pengurus, saya membaca dengan jelas: “bantuan Gus Dur, bantuan Gus Dur, bantuan Gus Dur, dan nama itu disebut berkali-kali berikut nominalnya. Oh, Gus Dur! Saya mendesah panjang. Gus Dur sering tak punya uang, karena setiap punya uang ia bagikan kepada orang lain atau pihak yang memerlukannya. Banyak cerita orang dekat Gus Dur yang bercerita soal kelakuannya seperti itu, termasuk ketika ia menjadi Presiden. Pak Mahfud MD, antara lain, bercerita ketika mendampinginya dan menjadi pembantunya sebagai Menteri. Gajinya sebagai Presiden diberikan kepada orang-orang yang memerlukannya atau yang menurutnya membutuhkan meskipun tak diminta, termasuk kepada menterinya. Gus Dur, kata Pak Mahfud, pernah memberikan sebagian gaji pertamanya kepada Alwi Shihab, sambil mengatakan : “Nih Alwi, untuk beli jas, masa Menteri jasnya jelek begitu”. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak muda yang diangkat sebagai menterinya : AS. Hikam. Sambil menyerahkan sebagian uang gajinya, kepadanya Gus Dur bilang : “Nih untuk beli sepatu, masa Menteri sepatunya butut”. Gus Dur mengatakan penilaiannya meski matanya tak bisa melihat. Kebiasaannya memberi kepada orang-orang yang memerlukannya, dilakukan Gus Dur tanpa menanyakan apaka mereka benar-benar membutuhkannya atau hanya pura-pura saja. Ia tak peduli. Gus Dur juga tak pernah meminta orang lain menyelidikinya. Ia juga memberikan tanpa melihat siapakah dia. Ia memang dalaam segala keadaan tak pernah bertanya-tanya mengenai identitas primordial seseorang. Baginya semua orang sama saja, hamba Allah. Ia bahkan juga memberikan kepada orang yang pernah dan masih terus mengkritik pikiran-pikirannya baik secara bisik-bisik maupun terbuka. Teman saya yang sudah disebut, pernah menceritakan orang tipe yang tertakhir ini. Ia dulu adalah santri dan temannya di pesantren Tebuireng, sekaligus mengaji kepada Gus Dur. Jadi ia adalah santrinya sendiri. Kini ia menjadi Kiyai terkenal dan mempunyai pesantren cukup besar dan terkenal di Jakarta. Sang kiyai suatu hari datang menemui Gus Dur di Ciganjur dan memohon bantuannya untuk pengembangan pesantrennya. Ia menceritakan dengan cukup detail tentang pesantrennya yang semakin berkembang dan tak lagi mencukupi. Ia lalu menyebutkan angka tertentu. Gus Dur mendengarkannya dengan tekun, lalu bilang kepada kiyai tersebut: “Saya tak punya uang sebesar itu, tapi Insya Allah saya akan berusaha mencarikannya. Sampeyan ikut berdoa saja ya”. 3 Juta modal jadi Presiden Manakala Gus Dur menyampaikan dirinya akan menjadi Presiden, jauh hari, mungkin setahun atau beberapa bulan, sebelum benar-benar jadi Presiden, ia ditanya sahabat dekatnya, tentang jumlah uang yang dipersiapkan untuk menjadi orang nomor satu di negerinya. Menurutnya bila orang mau jadi pejabat Negara di level manapun pastilah sudah mempersiapkan sejumlah uang besar untuk “membeli suara” para pemilihnya. Tak peduli darimana dia memperoleh uang tersebut. Apalagi untuk menjadi Presiden. Sahabat Gus Dur itu sangat paham “tradisi” memberi amplop itu. Gus Dur kemudian, tanpa piker panjang, bilang : “tiga juta”. Hah, sang sahabat tadi terperangah, tak percaya, lalu tersenyum-senyum getir, sambil mengatakan :”Tiga juta rupiah itu untuk beli aqua bagi anggota MPR saja tidak cukup Gus”. Mendengar itu Gus Dur hanya bilang dengan tenang : “ya sudah, kalau gak jadi presiden juga gak apa-apa. Wong saya gak punya uang kok”. Dan Gus Dur pun benar-benar menjadi Presiden ke IV, tanpa mengeluarkan uang satu rupiahpun. Ia memenangkan perebutan kursi Presiden atas Megawati. Hari-hari Gus Dur adalah hari-hari yang padat agenda bertemu banyak orang untuk keperluan yang beragam. Di samping menghadiri seminar, diskusi, memimpin rapat-rapat, menulis, mengaji, menghadiri pernikahan atau menikahkan, berziarah, ia juga menghadiriHaflah Imtihan di pesantren. Haflah Imtihan adalah istilah untuk upacara perayaan usai ujian dan mengakhiri kegiatan selama setahun di Pesanten. Teman saya yang setia mendampingi Gus Dur bercerita kepada saya. Suatu hari Gus Dur hadir untuk memberikan ceramah haflah imtihan di sebuah pesantren di Cirebon. Usai ceramah, Panitia menyalaminya sambil mencium tangannya bolak balik. Lalu menyalaminya sekali lagi untuk memberi amplop. “Ngapunten Gus, niki kangge transport”, ujarnya. Begitu ia menerimanya, ampop itu segera diberikan kepada teman saya si pendamping tadi dan berpesan agar dibagikan untuk siapa saja yang menyertainya dalam perjalanan, termasuk untuk makan dan bensin kendaraan. Setiap Gus Dur menerima amplop, ia tak pernah membukanya dan tak pernah bertanya berapa isinya. Ia juga tak pernah menceritakan kepada siapapun soal rizki yang sudah dibagikannya untuk mereka yang memerlukannya itu, kecil maupun besar. Akhirnya, dalam obrolan di rumahnya di Ciganjur, beberapa waktu sesudah Gus Dur pulang, beberapa orang teman menceritakan tentang keinginan atau niat “bapak” yang belum dipenuhi dan diwujudkannya, sampai kepulangannya tanggal 30 Desember 2009 itu. Entah di mana tempatnya, dalam obrolan malam di rumah atau di perjalanan, “bapak”, kata mereka, bercita-cita ingin membuatkan rumah untuk orang-orang yang membantunya selama ini. Konon, bapak sudah bertanya-tanya soal harga tanah di suatu tempat. Bila kelak ia punya uang, tanah itu akan dibelinya, lalu dibangunkan rumah sederhana untuk mereka. Ya, mereka yang setia menunggu malam-malam sambil menjaganya, yang siap dipanggil kapan saja jika “bapak” memerlukannya, yang menuntun dan membawanya kemana saja, yang menjaga rumahnya. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada saya: “Apakah itu Nazar atau Wasiat”?. Saya bilang: bukan, tetapi keinginan yang sungguh-sungguh. Memaknai Zuhud dan Zahid Maka Gus Dur memang sering tak punya uang, meski ketika ia menjadi Presiden. Ia seorang zahid, seorang darwis. Sang Zahid di manapun sering tak punya uang, sebab uang baginya punya uang atau harta benda bisa akan dan sering mengganggu pikiran dan jiwanya, melalaikannya dari tugas mengabdi dan mengingat Tuhan. Gus Dur pernah suatu saat menyampaikan ayat “Alhakum” atau “al-Takatsur”. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. ….. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”. Uang bahkan bisa dan acap bikin malapetaka, bikin cemburu, bikin fitnah dan lain-lain. Betapa banyak kisah dalam kehidupan masyarakat di mana uang jadi akar masalah permusuhan, konflik dan perceraian suami-istreri. Betapa banyak kisah pula dalam kehidupan social dimana ketergantungan orang pada uang bisa membuatnya melampaui batas-batas hukum, menciptakan kerakusan dan memicu kezaliman. Gus Dur sangat memahami ini. Lalu apakah seorang zahid tidak memerlkan uang?. Suatu hari saya bertanya kepadanya, dalam suatu kesempatan, soal makna “zuhud” (asketik). Saya bilang, ketika saya mengaji di pesantren, setiap kitab kuning menyebut kata “zuhud” selalu dimaknai membenci dunia, tidak menyukai dunia. Maksudnya tidak suka hal-hal yang berbau materi. Ketika ditanya itu, Gus Dur hanya bilang “zuhud itu banyak maknanya. Tapi maksudnya adalah sederhana, bersahaja”. Saya lalu mencari sendiri penjelasannya. Para ulama mendefinisikannya secara berbeda-beda. Zahid (orang yang zuhud) bukannya tidak boleh punya uang, pakaian atau kendaraan yang bagus. Tetapi semua benda itu tak boleh mengganggu hati dan pikirannya. Jika ada, dia mensyukurinya, dan jika hilang, dia tak memikirkannya, dia tidak gelisah atas kehilangan itu apalagi membuatnya jadi marah-marah. Seorang sufi bilang : “Zuhud adalah ”Adam al-Huzn ‘ala Ma Faat” (tidak berduka ketika kehilangan). Dan sufi lain bilang : اَلزَّاهِدُ مَنْ لَا يَفْرَحُ إِذَا زَادَتْ الدُّنْيَا وَلاَ يَحْزُنُ إِذَا نَقَصَتْ “Zahid adalah orang yang tidak merasa senang manakala diberi rizki lebih dan tidak merasa susah manakalah berkurang”. Kesenangan atau kenikmatan yang diperoleh dalam hidup tak membuat sang zahid lupa diri dan tidak pula membuatnya disibukkan atau dikendalikan oleh kenikmatan dan kesenangan duniawi itu seraya melupakan orang lain. Intinya, seperti dikatakan Gus Dur, zuhud adalah sikap hidup bersahaja serta kemampuan diri mengelola hati dan jiwanya untuk tidak terjerumus pada hal-hal yang pragmati, yang bernilai rendah dan mementingkan diri sendiri. Gus Dur tentu sudah membaca kitab al-Aghani, karya raksasa Abu al-Faraj al-Ishfahani, terdiri dari 40 lebih jilid tebal. Buku ini merekam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat, para kalifah, ulama, profesional, seniman, budayawan, pelawak, dan lain-lain, berikut pikiran-pikiran mereka. Di dalamnya terdapat bait-bait puisi dan syair-syair dari yang klasik sampai kontemporer. Salah satunya adalah nyanyian gubahan penyair besar Abu al-Atahiyah, seperti ini : إِذَا الْمَرْءُ لَمْ يَعْتِقْ مِنَ الْمَالِ نَفْسَهُ تَمَلَّكَهُ الْمَالُ الَّذِى هُوَ مَالِكُه أَلاَ إِنَّمَا مَالِى الَّذِى أَنَا مُنِفِقُ وَلَيْسَ لِى اَلْمَالُ الَّذِى اَنَا تَارِكُهُ إِذَا كُنِتَ ذَا مَالٍ فَبَادِرْ بِهِ اَّلذِى يَحِقُّ وَإِلَّا اسْتَهْلَكَتْهُ مَهَا لِكُهُ Jika orang tak bisa bebaskan jiwanya dari harta Harta itu pasti akan menjeratnya Ingatlah, hartanya adalah apa yang sudah dia berikan Bukan yang dia simpan di rumah Jika engkau punya harta Berikan segera kepada yang perlu Jika tidak, bencana akan menghancurkanmu Jika Ia Tak Punya, Ia Memberi Kegembiraan Jika tak ada lagi yang bisa diberikan Gus Dur, karena memang benar-benar sedang tak punya, ia akan menyampaikan kata-kata yang menggembirakan dan memberikan ketenangan. Gus Dur, selalu tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah murung, tangan yang pulang dengan hampa dan hati duka. Ia membayangkan jika orang yang mengharap pertolongannya pulang lalu menemui anak-anak dan isterinya yang menangis. Hatinya amat peka dan pilu mendengar orang lain yang sering susah. Ya, dalam keadaan tak bisa memberikan uang, Gus Dur akan berpesan kepada mereka seperti nasehat Ibnu Athaillah al-Sakandari ini : لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدُ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى اْلوَقْتِ الَّذِى يُرِيْدُ لَا فِى اْلوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ “Seyogyanya, tertundanya pemberian sesudah engkau mengulang-ulang permintaan kepada Tuhan, tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Dia menjamin pemenuhan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang kamu pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki”. Jika begitu Gus Dur adalah sang Zahid. Ia seorang yang bersahaja, yang selalu rela atas pemberian Tuhan, yang tak mengeluh, apalagi protes pada-Nya ketika tak punya apa-apa. Ia tak pernah gelisah ketika kehilangan kemegahan, kehormatan, kedudukan dan kenikmatan benda-benda. Karena ia tahu dan mengerti sungguh, sejak awal, setiap orang, sejatinya, tidak punya apa-apa, lalu Tuhan memberinya dengan cuma-cuma, gratis. Ia yang percaya bahwa Tuhan menjamin hidup makhluk-Nya, asal mau berusaha dan berdoa. “Tidak ada makhluk di muka bumi kecuali Allah menanggung rizkinya”, kata al-Qur’an. Lihatlah burung-burung di pepohonan itu: “Yaghdu Khimashan wa Yaruhu Bithanan”. “Pagi hari lapar, lalu terbang dan pulang kandang dengan perut kenyang”. Seorang zahid mengerti benar bahwa semuanya adalah anugerah dari Tuhan yang seyogyanya dan sepatutnya disyukuri. Jika kemudian dia tak lagi punya apa-apa, seharusnya juga tidak apa-apa. Mengapa harus pusing?. Mengapa harus gelisah, “Mengapa harus repot?” dan mengapa harus marah-marah. Seorang zahid adalah dia yang tak pernah bergantung pada makhluk Tuhan. Zahid adalah orang yang selalu memulangkan segala keputusan kepada Allah, karena semuanya sungguh-sungguh milik Dia dan karena itu ia akan selalu berterima kasih kepada-Nya. Bila orang tidak rela atas pemberian Tuhan, maka kepada siapakah lagi dia akan berharap?. Dia pernah bilang hal ini kepada Nabi: “ مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِى فَلْيَطْلُبْ رَبًّا سِوَائِى “Siapa saja yang tak rela atas keputusan-Ku, silakan cari Tuhan selain Aku” Gus Dur juga begitu. Ia mengerti bahwa rizki manusia adalah apa yang sudah dipakainya untuk hidupnya, ia mengerti pula bahwa seluruh kekayaan adalah amanat Tuhan yang harus dibagi bagi untuk kepentingan makhluk-Nya, dan pada akhirnya ia juga mengerti bahwa kekayaan itu tak akan memberinya manfaat manakala ia kelak dihadapkan kepada Tuhan, selain hati yang bersih menyintai-Nya. Gus Dur tentu saja ingin menemui Tuhannya, pada suatu hari kelak, dengan hati bersih, seperti dikatakan al-Qur’an : يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنٌ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ “(yaitu) hari di mana harta dan anak tak lagi memberi manfaat apapun, kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih”. “Qalb Salim” (hati yang bersih) adalah hati dan jiwa yang larut dalam cinta yang luruh dan seluruh. Cirebon, 210112 http://huseinmuhammad.net/matahari-telah-pulang-5-sang-zahid-sering-tak-punya-uang/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (4): Ketika "Sang Zahid" Di Rumahnya Lantunan al-Qur’an di Pagi Hari Sampai detik ini, sudah lima belas tahun, atau tepatnya sejak tahun 1997, saya mondar-mandir, datang dan pergi ke rumah Gus Dur, di Ciganjur. Ketika rumah di Ciganjur direnovasi dan pindah sementara di Jalan Paso, saya juga datang dan pulang. Kedatangan saya ke rumah Gus Dur, tak pasti. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan dan kadang tak bisa dihitung dengan hari. Semua tergantung kesepakatan sebelumnya. Di rumah itu saya pada awalnya datang untuk mengaji kitab kuning: “Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zawjain”, karya ulama besar Indonesia: Kiyai Nawawi al-Bantani, bersama teman-teman, di pimpin Ibu Shinta Nuriah. Tetapi dengan berjalannya waktu ada ruang terbuka bagi saya untuk bercanda-canda, tertawa riang dan tergelak-gelak, berdebat panjang, mendengar dongeng-dongeng, anekdot-anekdot, cerita-dan cerita epos, dengan keluarga Gus Dur, Ibu Shinta (isterinya), putri-putrinya (Lisa, Yeni, Anita dan Inay), sahabat-sahabat dan orang-orang yang ada di rumah itu. Ketika belum ada kamar tamu, saya tidur di dalam rumah di kamar lantai 1 atau di kantor, untuk satu atau dua malam, lalu pulang lagi ke Cirebon. Semuanya adalah hari-hari yang menyenangkan dan selalu merindukan. Tetapi memang saya jarang bertemu Gus Dur, apalagi terlibat dalam “ngobrol” panjang, kecuali hanya beberapa kali saja. Bukan apa-apa, tetapi karena beliau memang jarang tinggal lama-lama di rumah, meski selalu pulang untuk istirahat dua atau tiga jam, paling lama empat jam. Gus Dur sering datang dini hari, tanpa jam yang pasti. Manakala orang-orang di rumah sudah mimpi indah, beliau datang. Kadang jam 24.00, jam 01 atau jam 02.00, tetapi beliau selalu bangun jam 04.00, sebelum subuh. Saya tak tahu pasti apa yang dilakukannya setelah bangun. Setiap saya keluar kamar dan turun, Gus Dur sudah tidak ada lagi di rumah itu. Entah ke mana. Yang saya temukan adalah lantunan suara-suara merdu Syeik al-Hushari, Syeikh Sudaisi atau Syekh Abdul Basit Abdussahamad. Mereka adalah para Qari (pelantun al-Qur’an) terkemuka dunia dengan suaranya yang amat merdu dan indah. Suara-suara bacaan al-Qur’an itu dibiarkan melantun-lantun memenuhi dan menghiasi setiap ruang di dalam rumah itu sampai cahaya matahari pagi yang hangat menembus jendela kamar. Begitu indah, sejuk, ramah dan menciptakan kedamaian di hati. “Gus Dur sendiri yang meminta kaset al-Qur’an itu diputar saban pagi, usai shalat Subuh”, kata ibu Shinta. Gus Dur memang amat senang mendengar al-Qur’an di bacakan dengan suara yang indah. Bila ada ayat yang mengesankan hatinya ketika itu, ia kemudian acap menyampaikannya kepada orang lain, dengan memberi tafsir atasnya menurut pikirannya sendiri. Kesenangan kepada al-Qur'an Bukan hanya melalui kaset yang diputar setiap pagi, tetapi juga mengundang para penghafal al-Qur’an. Hampir setiap bulan beliau mengundang mahasiwa-mahasiswi dari Perguruan Tinggi Ilmu alQur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) untuk “sema’an”. “Sema’an”, diambil kata Arab “Sima’”, yang secara literal berarti mendengarkan. Tetapi entah sejak kapan kata itu telah menjadi istilah bagi suatu ritual membaca al-Qur’an oleh para penghafal al-Qur’an (hafiz/hafizhah) di hadapan orang lain yang mendengarkannya sambil membuka Mushaf dan mengamati huruf-huruf suci itu yang sedang diperdengarkan para qari tersebut. Perguruan Tinggi al-Qur’an yang disebut pertama adalah almamater saya, sejak 1973 sampai 1980. Tidur di Atas Lantai Sambil Mendekap Bantal Sering, ketika tamu sudah pulang, malam telah sepi dan bulan di langit tertatih-tatih berjalan ke barat untuk beberapa jam kemudian tenggelam, Gus Dur tak langsung masuk kamar untuk istirahat, tidur. Beliau lebih suka tidur di ruang depan, di ruang tamu atau di ruang terbuka di mana saja yang dirasa nyaman. Jika pun sudah di dalam kamar ia acap keluar kamar sendirian, sambil meraba-raba tembok lalu mencari kursi. Ia duduk-duduk atau mengambil tempat dilantai dan merebahkan tubuhnya begitu saja atau melingkar sambil memeluk bantal. Ia tak pernah memilih tempat. Kebiasaan ini tidak hanya ketika ia di rumahnya. Pada saat ia singgah dan menginap di rumah Kiyai Fuad Hasyim (alm), Buntet Pesantren, Cirebon, ia juga melakukan kebiasaan itu. “Gus Dur sering mampir ke sini untuk sekedar cari teman ngobrol ngalor ngidul, kadang sampai dini hari yang dingin, sambil lesehan, leyeh-leyeh. Jika sudah ngantuk beliau langsung merebahkan tubuhnya di lantai, begitu saja, kadang tak pakai baju”. Ini cerita Kiyai Fuad kepada saya suatu hari di rumahnya. Bagi Gus Dur, tempat di mana-mana sama saja, sebab tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tubuh mengikuti jiwa, bukan sebaliknya. Kadang “kenikmatan tubuh sering melalaikan Tuhan”, kata para sufi. Para sufi besar selalu memilih dan mengutamakan ruh, bukan tubuh. Gus Dur pastilah sudah membaca sejarah hidup Nabi atau pernah mendengar cerita ayahnya. Ibnu Mas’ud, sering melihat Nabi tidur di rumahnya. Sahabat Nabi ini bercerita: نَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى حَصِيْرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا يَا رَسُولَ الله لَوْ اتَّخَذْنَا لَك وَطَاءً. فَقَالَ: "مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ، اِسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا" “Nabi tidur di atas tikar. Ketika bangun, tampak di tubuhnya bekas cetakan tikar. Aku bilang: “Nabi, boleh kami ambilkan kasur untukmu?”. Nabi mengatakan : “Apalah artinya aku dan kehidupan di dunia ini. Di sini aku hanyalah bagai penunggang unta yang bernaung sementara di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan tempat itu”. (hadits sahih). Dengan begitu Gus Dur juga seakan-akan tak lagi memikirkan dirinya sendiri. Ia tak memikirkan tubuhnya harus diletakkan di mana. Jiwanya seakan-akan selalu bergelora, resah, berdesir sarat rindu. Apakah yang ada dan pikiran dan jiwanya?. Saya mengira-ngira saja. Karena siapa sih yang mengerti isi pikiran dan hati manusia, selain Tuhan?. Ya, saya hanya mengira-ngira: bahwa yang ada dalam pikiran, jiwanya dan relung hatinya adalah manusia. Manusialah yang selalu menjadi pikirannya, terutama mereka yang hatinya luka, terkoyak dan hancur. “Jika kalian mencari aku, carilah ditempat kumpulan orang-orang yang hatinya luka”, kata Nabi kepada para sahabatnya, suatu saat. Tak Memikirkan Pakaian Sering saya melihat, Gus Dur, di rumahnya, hanya mengenakan kaos dan celana sebatas bawah lutut, dari bahan yang tak tampak berkualitas. Ketika ia masih sakit, tahun 1997, aku dipanggilnya masuk kamarnya. Sastro Ng, mungkin mengabarinya ada saya di kamar atas di rumahnya. Di kamar itu ia mengenakan pakaian seperti itu: celana dan kaos seperti tadi. Seperti pakaian yang dikenakannya ketika ia berdiri di depan istana, sambil melambai-lambaikan tangan kepada ratusan umatnya yang menunggunya menjelang ia dilengserkan dengan paksa dan inkonstitusional dari kursi kepresidenan. Tak ada bedanya, ketika ia di Istana maupun di rumahnya. Gus Dur memang tak memikirkan atau tak lagi terpikirkan soal bahan apa dan warna apa yang patut dipakai. Ia juga tak peduli bikinan siapa untuk pakaiannya, bikinan dalam negeri atau luar negeri, buatan orang Islam atau orang kafir, dan sedang menjadi Presiden atau menjadi orang biasa. Ia menerima saja apa yang diberikan kepadanya. Tetapi tentu saja, ibu, anak-anaknya atau saudara-saudaranya memperhatikan soal pakaian itu. Merekalah yang memilihkan pakaian untuk suami/ayahnya/kakaknya, pakaian apa yang pantas baginya di suatu tempat dan untuk suami momen. Sungguh, sepanjang saya di rumah Gus Dur, saya tak pernah melihatnya memakai kain sarung, seperti kiyai pada umumnya, padahal ia adalah kiyai besar, kecuali di foto yang tersimpan di album foto keluarganya atau di tempat lain, saya tak ingat. Padahal saya dulu, ketika masih mondok di pesantren, menganggap sarung adalah pakaian Islam. Tak sah rasanya jika shalat atau menghadiri akad nikah, tidak pakai sarung. Jika saya masuk masjid untuk shalat dengan tidak pakai sarung dan berjemaah bersama orang lain yang memakainya, maka saya dianggap tidak pantas menjadi Imam shalat. Tidak afdol, katanya. Bila saya menghadiri akad nikah orang di kampung tak memakai kain sarung, si wali nikah tak meminta saya mewakili menikahkan anaknya atau menyampaikan khutbah nikah. Beda jika saya memakainya. Gus Dur, tentu juga paling paham soal budaya ini. Kiyai A.Wahid Maryanto, atau yang akrab dipanggil Kiyai Acung, santri Gus Dur ketika di Pesantren Tebuireng, suatu saat bercerita kepada saya bahwa Gus Dur sering tak betah sendirian di rumah, baik ketika malam maupun ketika siang. Ia sering mencari-cari teman untuk sekedar menjadi tempat menyalurkan hasrat-hasratnya; bicara ngalor ngidul tentang politik, partai, negara, dunia, bangsa, tentang NU dan umat, atau bercerita yang ringan-ringan dan tak ketinggalan joke-joke menyegarkan dan membuat perut jadi sakit, sambil memijat-mijat kaki dan tubuhnya yang kelelahan. Kiyai Acung bilang, dirinya sendiri, terutama pada malam hari, jika ada di sana, sering dipanggil “bapak” untuk keperluan yang sama. Bila “bapak” telah tidur, dia pamit. “Meski tidur sampai mendengkur, “bapak” tahu kalau aku meninggalkannya, pulang ke kamar tamu di depan”, katanya. “Kamu pulang Cung”, kata Gus Dur kepada Kiyai Acung. “Bapak” adalah panggilannya kepada Gus Dur. Jika Gus Dur tak bisa tidur nyenyak dan tubuhnya terlihat bagai orang yang sedang resah di tempat tidur, saya amat paham. Bagi tubuh yang menyimpan magma spiritual yang bergolak, kesendirian kadang amat menyiksa. Magma itu selalu ingin ditumpahkannya lalu mengaliri siapa saja yang ditemuinya. Dan Gus Dur selalu ingin menemui orang di mana saja untuk bicara apa saja atau sekedar untuk bercanda atau menumpahkan humor-humor segar-cerdas yang baru saja melintas dalam pikirannya. Ibu Shinta bercerita kepada saya, “Sering pada malam-malam yang telah sepi, ketika tak ada lagi orang yang jaga, Gus Dur, tiba-tiba meminta, setengah memaksa, untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, di Jawa Timur. Ketika disampaikan “mas, ini sudah malam, sudah larut, sudah jam 02 dini hari, dan tak ada pesawat, beliau baru berhenti meminta, meski tampak beliau sangat kecewa”. Ibu sebenarnya paham bahwa Gus Dur, malam itu, pasti sedang mengingat dan memikirkan orang-orang di Jawa Timur yang ingin sekali bertemu beliau. Ibu diceritai soal itu siangnya. Dan Gus Dur tak ingin mengecewakan mereka. Ia ingin memberikan kegembiraan atau menghibur hati mereka yang tengah luka. Makan Malam Keluarga yang penuh tawa Saya sering makan di rumah itu, pagi, siang atau malam, baik usai mengaji atau tidak. Apabila sarapan pagi atau makan siang, ibu Shinta hanya menemani saya dan teman yang ikut ngaji bersama saya di rumah itu. Ibu tak pernah ikut makan bersama, karena beliau puasa tiap hari dan itu dilakoninya selama bertahun-tahun, sejak masih mondok di Jombang dan berkenalan dengan suaminya itu. Lauk-pauknya tak ada yang istimewa. Begitu sederhana; tempe, tahu, sambal, lalap, sayur bening atau lodeh, atau rawon atau soto Lamongan, rujak cingur, pecel,telor, daging kering dan kerupuk. Cuci mulutnya pisang, jeruk, es cendol, atau es campur. Begitulah isi meja makan di rumah itu, begitu bersahaja, tak ada kemewahan, tak ada yang istimewa, dan tak ada yang berlebih-lebihan. Bukan hanya di rumah ini menu seperti itu, tetapi juga ketika di istana, selama dua tahun. Saya sama sekali tak bisa membandingkan dengan menu makanan para pembesar yang lain di rumah mereka, di Menteng atau di Cikeas, karena tak pernah makan di sana, karena orang kecil, konon, dilarang masuk. Ada satu malam yang tak akan pernah saya lupakan. Itu adalah ketika saya, usai mengaji dari siang sampai sore, diajak makan malam bersama Gus Dur dan keluarganya di rumah itu. Saya amat senang karena beliau ada di rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Saya amat jarang menyaksikan pemandangan seperti ini, seperti malam itu. Di meja makan itu saya adalah satu-satunya “orang asing” di keluarga itu. Di samping Gus Dur dan Ibu Shinta Nuriah adalah empat orang anaknya. Menu makanan yang dihidangkan tetap saja tak terlalu istimewa, seperti yang sudah disebut di atas. Saya duduk berhadapan dengan Gus Dur. Saya melihat dengan amat jelas, beliau tak menampik/menolak lauk apa yang diberikan kepadanya. Beliau menerima saja, mengunyahnya dan menikmatinya. Sepertinya tak ada makanan yang tak disukainya. Manakala nasi habis dan ditambahi anaknya, beliau diam saja dan melahapnya. Usai makan yang “penuh berkah” itu, dengan tetap berada di depan meja, Gus Dur mulai melemparkan cerita-cerita unik dan humor-humor baru yang membuat semuanya tergelak-gelak. Lemparan humor Gus Dur disambut dengan humor-humor dari yang lainnya, kecuali saya, dengan humor-humor yang tak kalah lucu dan sanggup meledakkan tawa yang tak habis-habis. Dan perut saya tiba-tiba tak lagi penuh, karena terguncang-guncang yang tak pernah mau berhenti. Saya sendiri tak punya bahan apa-apa untuk bisa membuat orang bergembira, terbahak-bahak atau terkekeh-kekeh, seperti mereka. Sayang sekali, saya bukan orang yang bisa menyimpan cerita atau lelucon itu dalam otak saya, hingga semuanya jadi lupa, tak bisa diingat lagi. Mengaji Kitab Sastra dan Tasawuf Jika Gus Dur tak pergi ke mana-mana, ia atau memang ada jadwal mengaji kitab kuning di masjidnya, beliau mengaji atau memberikan kuliah kepada para santrinya, sambil duduk di kursi yang sudah disediakan. Sementara para santrinya duduk bersila dalam posisi melingkar membentuk arena. Gus Dur biasanya menentukan hari Sabtu untuk mengaji kitab kuning itu. Banyak kitab yang sudah dibaca Gus Dur, di hadapan para santrinya, terutama kitab-kitab bahasa dan sastra klasik, kitab-kitab Tasawuf (mistisisme) dan Ushul al-Fiqh(teori fiqh) atau al-Qawa’id al Fiqhiyyah (kaedah fiqh). Menurut Kiyai AW. Maryanto, yang biasa mendampingi atau membacakan kitab, Gus Dur pernah membacakan kitab “Qathr al-Nada”, sebuah kitab tata bahasa Arab karya Ibnu Hisyam. Lalu kitab Al-Mu’allaqat al-Sab’, kumpulan puisi Imri al-Qais, raja penyair Arab pra Islam. Secara literal “Al-Mu’allaqat al-Sab’”adalah tujuh puisi yang digantung di dinding ka’bah. Bila sebuah puisi sudah digantung di situ, maka ia adalah yang terseleksi dari sekian banyak puisi. Seleksinya dilakukan di hadapan public di arena sastra di Ukaz. Gus Dur juga membaca Diwan Al-Buhturi, Maqamat al-Hariri dan Diwan al-Mutanabbi. Lalu ia juga menyebut kitab Nuzhah Alibba fi Thabaqat al-Udaba (Taman Para Cendikia; Biofrafi Para Sastrawan), karya Abu al-Barakat al-Anbari. Buku yang terakhir ini, menurut cerita Gus Dur, masih tersimpan di lemari kakeknya; Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Ia membacanya ketika masih sangat muda. Semuanya adalah kitab sastra Arab klasik yang bermutu tinggi dan menjadi acuan penulisan sastra Arab-Islam sesudahnya. Kitab lain yang dibaca adalah Al-Asybah wa al-Nazhair, sebuah kitab tentang kaedah-kaedah hukum (fiqh), karya Imam Abd al-Rahman al-Suyuthi, seorang ensiklopedis (mausu’i), penulis ratusan kitab kuning dalam berbagai disiplin. Caranya mengaji kitab-kitab itu tidak sebagaimana di pesantren. Gus Dur tidak membaca seluruh isinya. Ia hanya membaca awalnya dan beberapa kalimat saja yang dibacakan oleh salah seorang santri, lalu menjelaskan kandungannya. Di tengah-tengah mengaji kitab-kitab tersebut beliau juga menyinggung tentang kitab lainnya dan bercerita panjang lebar. Gus Dur juga membaca kitab-kitab Tasawwuf. Pada bulan puasa Gus Dur membaca kitab Al-Hikam (Mutiara-mutiara Kebijaksanaan) karya sufi besar Ibnu Athaillah al-Sakandari. Ia menyinggung dan memperkenalkan antara lain kitab Al-Insan al-Kamil (Manusia Paripurna), buku Tasawuf yang amat terkenal, karya sufi besar Abd al-Karim al-Jilli. Tetapi dari banyak sekali kitab klasik tasawuf tersebut, Gus Dur tampaknya sangat terkesan pada kitab al-Hikam al-‘Athaiyyah tadi. Kitab ini sangat dikenal luas di kalangan ulama Pesantren dan selalu diajarkan di sana sampai hari ini. Kitab al-Hikam, adalah referensi utama sufisme sunni, selain Qut al-Qulub (Energi hati), karya Abu Thalib al-Makki, al-Risalah (risalah), karya al-Qusyairi, dan tentu saja Ihya Ulum al-Din (menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama), karya puncak Imam al-Ghazali. Gus Dur tampak amat menyenangi kitab Hikam, mungkin karena karya ini ditulis dalam bentuk sastra puisi yang sangat indah dengan isinya yang penuh mutiara kebijaksanaan. Salah satu puisi Ibnu Athaillah yang sering disampaikan Gus Dur adalah syair “Idfin”, ini : إِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ Sembunyikan wujudmu pada tanah yang tak dikenal Sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna Soal puisi (syair) di atas, Prof. Dr. Zaki Mubarak, sarjana Tasawuf terkemuka dari Mesir, mengatakan : “Syair Idfin itu amat memukau. Ia begitu indah. Aku tak pernah menemukan yang sepertinya di tempat lain. Di dalamnya tersimpan gejolak spiritualisme yang amat kuat. Sang penulis, agaknya, menemukan maknanya ketika ia melakukan permenungan dalam sunyi, bening dan dalam situasi ekstasi, lalu merasuki jiwanya, maka ia menjadi kata-kata indah nan abadi, sepanjang zaman”.(Al-Tashawwuf al-Islami fi al-Adab wa al-Akhlaq, hlm. 108). Puisi tersebut bicara soal perlunya menjauhkan hasrat dan ambisi akan popularitas, kemasyhuran diri dan politik pencitraan. Arti puisi itu kira-kira begini : “Simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat yang demikian tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna”. Hasrat akan kemasyhuran akan menyibukkan diri pada urusan-urusan yang tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli pada orang lain. Hasrat ini mungkin sekarang popular disebut “politik pencitraan”. Saya pernah membaca buku karya Yasraf Amir Piliang, Posrealitas. Ia bilang: “Citra merupakan bentuk manipulasi realitas untuk kepentingan tertentu, dan pada titik yang ekstrim, tercerabut sama sekali dari dunia realitas. Citra tak lagi merupakan cermin realitas, melainkan cermin dari kepentingan. Yang tercipta adalah fatamorgana social yang di dalamnya tanda-tanda (symbol-symbol) telah tercerabut dari kebenaran”. Dengan lugas Yasraf bilang : “Citra memangsa dunia realitas dan membunuh kebenaran”. Makna lain dari kata-kata bijak Ibnu Athaillah di atas adalah perlunya ketulusan dan keikhlasan. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”, kata pepatah Jawa. Puisi lain dari sufi agung yang juga amat sering disampaikan Gus Dur adalah : لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُه وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ Tak usah temani orang-orang yang tak membangkitkan tingkah-lakumu Dan yang kata-katanya tak membimbingmu kepada Tuhan Gus Dur, sering menyampaikan di hadapan umatnya, bahwa syair inilah yang mengilhami para ulama /kiyai pesantren, pada 1926, untuk memberi nama organisasi mereka: “Nahdlatul Ulama”, yang berarti Kebangkitan Ulama. Kini ia menjadi organisasi keagamaan terbesar di dunia, dengan berjuta-juta pengikut setia yang hari demi hari terus bertambah. Ada tokoh NU yang menyebut, jumlah pengikut NU adalah semua warga Negara Indonesia, selain Muhammadiyah. Ukurannya mudah saja; sepanjang orang masih Tahlil pada hari kematian, maka dia orang NU. Ini mungkin saja sekedar berkelakar. Kakek Gus Dur adalah pimpinan tertinggi pertama dengan sebutan “Rois Akbar”. Predikat ini hanya disandang beliau. Gus Dur, sang cucu, kemudian melanjurkan, membesarkan dan membuat organisasi ini dikenal luas di dunia Barat maupun di dunia Timur. Gus Dur telah memimpin organisasi ini selama 15 tahun, dan di bawah kepemimpinannya NU kembali berwibawa dan disegani banyak orang, termasuk pemerintah. Banyak orang bilang NU telah menjadi Gus Dur. “Gus Dur adalah NU”. Mengenai kata-kata ini saya ingat ucapan Rumi sang penyair-sufi: “Aku telah begitu banyak berdoa Hingga aku telah berubah menjadi doa itu sendiri Setiap orang yang melihat diriku Meminta doa dariku Dengan kata-kata bijak dari Ibu Athaillah di atas, Gus Dur juga telah membangkitkan pikiran para santri dan umatnya, sehingga mereka banyak yang kemudian menjadi cerdas, kritis dan bergairah. Tak ada kekuatan apapun di bumi Yang mampu menundukkan bangsa. Jika saja mereka bangkit Setiap mendengar Gus Dur membaca kalimat-kalimat puitis di atas, terutama syair “Idfin”, saya tak tahan untuk menangis sendiri. “Pesan-pesan itulah rupanya yang menuntun dan membimbing Gus Dur sepanjang hidupnya”. Beliau selalu menyimpan hasrat-hasrat kemasyhuran diri dan lebih banyak bekerja daripada bicara. Beliau bicara jika memang harus bicara. Meskipun gemar humor atau melucu tetapi humor-humornya selalu memberi makna yang berguna bagi orang. Humor-humornya bukan asal-asalan, tetapi menyimpan makna. Gus Dur selalu ingin dan memang sering menemui orang-orang yang direndahkan dan disisihkan hanya karena mereka miskin, papa tak penting dan tak berharga. Tetapi tidak bagi beliau. Merekalah yang telah memberi makna, menginspirasi, membangkitkan gairahnya dan Gus Dur ingin membangkitkan gairah mereka, membuat mereka bisa menatap hari depan dan menjalani hidupnya dengan optimis. Gus Dur tahu persis, kemiskinan menjadi sumber paling potensial menghancurkan moral orang, seperti kata Nabi : “Kada al-Faqr an Yakjuna Kufran”. Saya memaknai hadits ini “Kefakiran bisa mengantarkan orang pada sikap anti (mengingkari) kebenaran”, dan bukannya “kefakiran mendekatkan orang pada kekafiran/murtad”, meski mungkin saja. Gus Dur juga ingin mereka bangkit dan maju. Betapa banyak sudah anak-anak muda miskin diberinya bantuan, dan betapa banyak anak muda yang diberi kesempatan untuk maju dan menjadi pemimpin. Beliau gembira dan tak mengharap balas jasa. Gus Dur tak peduli, mereka mau berterima kasih atau tidak. Cirebon, 180112   http://huseinmuhammad.net/matahari-telah-pulang-4-ketika-sang-zahid-di-rumahnya/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (3): Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi Gus Dur adalah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tidak suka atau ber beda pendapat dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur agar jika ia kelak wafat, nisannya ditulis “Di Sini dikubur Sang Pluralis”. Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tidak, dan tak peduli masyarakat memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin memandang manusia, siapapun dia dan di manapun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. Sejauh yang saya tahu, Gus Dur tak banyak bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Qur’an ini : “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”. “Li Ta’arafu” (saling mengenal), tidak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah dan tubuh yang lain. Saling mengenal adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang berbeda, yang tak sama. Lebih dari segalanya “li ta’arafu” berarti agar kalian saling menjadi arif bagi yang lain. Yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling taqwa, bukan yang paling gagah atau cantik, bukan yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa bukan sekedar dan hanya berarti sering datang ke masjid atau menghadiri secara rutin majlis ta’lim, membaca kitab suci, memutar-mutar tasbih, bangun malam, atau puasa saban hari. Tetapi lebih dari itu taqwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam. Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyampaikan makna taqwa dengan menyitir ayat-ayat al-Qur’an ini: لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.(Q.S. al-Baqarah, [2:177]. Semua itulah makna taqwa yang dipahami Gus Dur. Dari ayat al-Qur’an ini Gus Dur sering mengatakan bahwa Islam itu terdiri dari 3 rukun (pilar): Rukun Iman, Rukun Islam, dan Rukun Tetangga. Saya kira apa yang dimaksud Gus Dur tentang rukun yang ke tiga ini adalah Rukun Kemanusiaan. Gus Dur tentu bukan tidak tahu Rukun ini dalam konteks tradisi Islam disebut Ihsan. Tetapi Ihsan dalam pengertiannya adalah Kemanusiaan tadi. Dengan itu, Gus Dur tampaknya ingin menggugah kesadaran kaum muslimin agar tidak mengabaikan atau mereduksi rukun tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa ia menjadi tujuan dari agama dalam kehidupan manusia di dunia. Maka Gus Dur, sering bicara tentang kejujuran, keteguhan/kesabaran dalam berjuang, menghargai orang dan mengadvokasi siapa saja yang menderita dan yang ditindas. Lebih dari itu, ia bukan hanya sekedar menghargai atau menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan juga menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Sebaliknya, ia akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan. Ketika para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bersama mereka. Ketika Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak “jangan”. Ketika Inul Daratisna dihujat ramai-ramai karena dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia “memeluk”nya dengan hangat. Ketika Dorce disoraki karena berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan lembut dan penuh kasih. “Jika itu adalah dirimu, teruslah bekerja”, katanya. Ketika urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diserahkan kepada Negara, ia berdemonstrasi bersama isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama mereka yang menghargai kemanusiaan. Ketika orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. Meski tak bisa melihat dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan. Gus Dur senang. Seringkali kita melihat sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia harus mempertaruhkan jiwanya. Ia tak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang bikin heboh itu, misalnya, Gus Dur tak menemukan mata lain yang penuh pengertian. Ia berjalan sendiri. Seorang sufi mengatakan “ia yang jiwanya telah mencapai kesadaran yang matang, bantuan eksternal tak lagi diperlukan”. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, karena ia telah matang. “La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia tak pernah takut pada mata yang membenci). Kata Gus Dur; “Di tempatkan di urutan manapun, Muhammad bin Abdullah tetap saja sang penghulu para nabi dan utusan Tuhan, Insan Kamil”. Bagi Gus Dur semua manusia adalah sama, tak peduli dari mana asal usulnya, apa jenis kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat adalah bahwa mereka manusia seperti dirinya dan yang lain. Yang ia lihat adalah niat baik dan perbuatannya, seperti kata Nabi ; “Tuhan tidak melihat tubuh dan wajahmu, melainkan amal dan hatimu”. Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tidak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Gus tetap saja nembela mereka. Ia membela karena tubuh mereka diserang dan dilukai hanya karena baju agamanya yang berwarna lain, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan dan kehormatan mereka diinjak-injak. Padahal mereka tak melakukan apa-apa. Membela kehormatan adalah perjuangan besar. Bagi Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, personal, individual, yang dianggap sebagian orang sebagai tak bermoral, tak boleh melibatkan Negara, tak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh, sampai khatam dan dengan ketulusan. Bagi Gus Dur, keyakinan dan pikiran tak bisa dinamai tak bisa diberi tanda. Pikiran adalah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hamba-Nya. Dialah Pemilik nafas setiap yang hidup dan Dialah yang akan menanyainya kelak, bila tiba masanya. Karena itu, hanya Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tidak yang lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi : لَيْسَ فِى وُسْعِكَ إِبْعَادُ تِلْكَ الْفِكَرِ عَنْكَ وَلَوْ بِمِائَةِ اَلْفِ جُهْدٍ وَسَعْيٍ “Tak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat”. فَالْفِكَرُ مَا دَامَتْ فِى الْبَاطِنِ تَكُونُ دُونَ إِسْمٍ وَدُونَ عَلاَمَةٍ لاَ يُمْكِنُ الْحُكْمُ عَلَيْهَا بِكُفْرٍ وَلَا بِإِسْلاَمٍ. “Sepanjang pikiran-pikiran tersembunyi di dalam, maka ia tak bernama dan tak bertanda. Ia tak mungkin dihukumi kafir atau islam”. Begitulah sikap seorang yang telah memiliki batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya mampu menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Kata-kata-Nya memiliki dan menyimpan berjuta makna dan tak terbatas. Pemaksaan atas pikiran dan keyakinan orang tak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya menjadi sakit, menderita, dan menghambat kemajuan orang dan peradaban manusia. Tak ada cara lain untuk menundukkan orang lain kecuali melalui bicara manis, tanpa marah-marah dan dengan otak yang cerdas. Jika tak tunduk, biarkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri, sambil katakan saja : “anda adalah anda dan aku adalah aku. Wassalam”. Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam dan para Nabi-nabi sejak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya adalah Al Mustashfa, karya Imam Abu Hamid al Ghazali. Sufi besar ini mengatakan bahwa tujuan aturan agama adalah memberikan jaminan keselamatan keyakinan orang, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al Ghazali menyebut lima prinsip dasar perlindungan ini sebagai “al-Kulliyyat al Khams”. Orang sering menyebutnya “Maqashid al-Syari’ah” (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada setiap manusia yang tak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah basis fundamental (al-Rukn al-Asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur. Meskipun Gus Dur membaca dan mengerti, tetapi ia tidak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, seperti dituduhkan sebagian orang. Ia menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia mampu menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan genuine, sejalan dengan konteks kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang sangat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya : bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan. Melalui penjagaan atas lima prinsip dasar kemanusiaan universal tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan manusia atas dasar kemanusiaan (Ukhuwwah Insaniyyah), tanpa dibatasi sekat-sekat primordial. Ini menurut saya sesungguhnya merupakan gagasan para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, adalah orang-orang yang paling vocal menyuarakan gagasan pluralisme dan persaudaraan universal itu. Tak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tidak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang kehadapan-Nya seluruh yang mawjud tunduk. Dan seluruh yang mawjud (ada) sejak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda. عِبَارَاتُنَا شَتَّى وَحُسْنُكَ وَاحِدٌ وَكُلٌّ اِلَى ذَاكَ الْجَمَالِ يُشِيْرُ Bahasa kita begitu beragam tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah Dan kita masing-masing menuju kepada Keindahan Yang Satu itu Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini seharusnya tidak menghalangi setiap manusia untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak manusia yang lainnya. Para sufi memandang alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan sebagai “tajalli” Tuhan, perwujudan rahmat dan keagungan-Nya di alam semesta. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Dialah Sang Penciptanya. Ibnu Athaillah, nama sufi besar yang dikagumi Gus Dur, banyak bicara soal Kesatuan Semesta, meneruskan gagasan Ibnu Arabi. Ibnu Ajibah mengomentari gagasan itu dalam syairnya yang indah: أُنْظُرْ جَمَالِى شَاهِداً فِى كُلِّ إِنْسَان اَلْمَاءُ يَجْرِى نَافِداً فِى أُسِّ الْاَغْصَان تَجِدْهُ مَاءً وَاحِدًا وَالزَّهْرُ أَلْوَان Lihatlah Keindahan-Ku Tampak pada semua manusia Air mengalir, menembus pokok dahan dan ranting Engkau mendapatinya Berasal dari satu mata air Padahal bunga berwarna-warni Saya merasa yakin bahwa Gus Dur juga sudah membaca kitab karya Sufi Martir yang legendaries; Husein Manshur al-Hallaj. Kisah sufi besar ini sama dengan Syeikh Siti Jenar atau di Cirebon dikenal sebagai Syeikh Lemah Abang. Dalam Antologi al-Hallaj (Diwan al-Hallaj) ia pernah mendendangkan puisi ini: تَفَكَّرْتُ فِى اْلاَدْيَانِ جِدَّ تَحَقُّقٍ فَأَلْفَيْتُهَا اَصْلاً لَهُ شُعَبًا جَمًّا فَلَا تَطْلُبَنْ لِلْمَرْءِ دِيْنًا فَإِنَّهُ يُصَدُّ عَنِ الْاَصْلِ اْلوَثِيْقِ وَإِنَّمَا يُطَالِبُهُ أَصْلٌ يُعَبِّرُ عِنْدَهُ جَمِيْعَ الْمَعَالِى وَالْمَعَانِى فَيَفْهَمَا Sungguh, aku telah merenung amat panjang agama-agama Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang Jangan kau tuntut orang memeluk satu saja Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam Seyogyanya biar akar itu membimbingnya Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan makna-makna luhur Maka dia akan mengerti (Diwan al-Hallaj, 50) Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik raksasa dan primer sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau dibaca tetapi hanya sampai kulit luar, yang tertulis, yang literal, harfiyah, dan tak khatam, tak selesai. Cirebon, 13 Januari 2012   http://huseinmuhammad.net/matahari-telah-pulang-3-pluralisme-gus-dur-gagasan-para-sufi/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (2): Memperebutkan Makna Gus Dur Gus Dur, nama yang akan dikenang rakyat Indonesia berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun tahun dan untuk rentang waktu yang panjang. Boleh jadi ia akan menjadi ikon dan legenda dalam sejarah bangsa muslim terbesar di dunia. Beberapa orang meramal Gus Dur untuk satu atau dua abad kemudian akan berubah menjadi pribadi yang dimitoskan. Mungkin ini pandangan yang berlebihan bagi manusia yang hidup hari ini, tetapi masa depan yang panjang adalah kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan. Ketika pikiran-pikirannya ditulis sebagai babad, sejarah hidupnya didongengkan kepada anak-anak dan pesan-pesannya dipahat di mana-mana, serta ketika puisi-puisinya disenandungkan di surau-surau, ia sangat mungkin menjadi sarat makna mitis, menjadi Sang Legenda. Lihatlah, hari ketika ia wafat. Puji-pujian dan kekaguman-kekaguman kepadanya mengalir begitu deras dari berbagai sudut, pojok, pusat lingkaran dan pinggir social yang tak terjamah oleh tangan kekuasaan. Bunga warna warni yang wangi menyebar dan berhamburan ke setiap jalan yang dilaluinya, menumpuk bagai taman bunga, lalu sebagian daripadanya ditebarkan di atas tanah, pusara, tempat istirahnya yang terakhir dan abadi. Sangatlah terasa dan terlihat dengan kasat mata, pujian dan kekaguman yang disampaikan orang ketika Gus Dur pulang begitu besar, tak terbayangkan dan melampaui kematian orang besar siapapun di negeri ini. Ribuan orang di berbagai kota dan desa menangis tersedu-sedu, pada hari ditinggal Gus Dur dan hari-hari sesudahnya. Mereka berduka sambil komat-kamit memanjatkan do’a ampunan dan rahmat baginya. Lihatlah, ribuan para peziarah, perempuan dan laki-laki, tua, muda dan anak-anak, dari berbagai desa dan kota datang ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tebuireng. Latar pesantren dan masjid di sana tak lagi menampungnya. Sekitar 40 ribu orang hadir di sana. Masjid-masjid di seluruh pelosok negeri segera menyelenggarakan shalat ghaib, membaca al Qur’an surah Yasin dan Tahlil. Pahala bacaan-bacaan suci itu dihadiahkan atau dimohonkan kepada Tuhan untuk beliau. Gereja-gereja mendentangkan loncengnya, untuk menyelenggarakan ritual dan do’a khusus bagi Gus Dur. Kuil-kuil, Sinagog-sinagog, Vihara-vihara, Pure-pure, dan tempat-tempat penyembahan yang lain juga menyelenggarakan ritual, mantra dan do’a untuknya. Kata mereka, Gus Dur adalah orang suci, sang Santo. Ketika kaum Kristiani, umat Budha, umat Hindu atau jama’at Ahmadiyah atau yang lain ditanya tentang Gus Dur, mereka mengatakan : “apa yang dikatakan dan dijalani Gus Dur, itulah yang difirmankan Yesus, diajarkan Moses, dituturkan Sang Budha, disabdakan dalam Baghawad Gita dan disampaikan Hazrat Mirza. Melalui beliau kata-kata Yesus, Moses (Nabi Musa), Budha, Gita dan Hazrat Mirza, menjadi hidup kembali”. Di latar Tugu Proklamasi, sejuta lilin duka dinyalakan mereka yang mencintai Gus Dur, meski dalam rinai hujan yang turun rintik-rintik. Mereka yang hadir malam itu memakai baju keyakinan yang berwarna-warni, bagai pelangi, indah sekali. Semua menunduk, berdo’a ke Hadirat Yang Maha Esa, tak peduli apa nama dan sebutan-Nya, untuk beliau; Gus Dur. Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat dalam ritual-ritual agama atau kepercayaan, tiba-tiba hanyut dalam emosi melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika rasional tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu. Lihatlah, para bikhu (bhiksu) dan bhikuni dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menunduk dan menggumamkan do’a-do’a. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah dan mengharukan seperti ini di manapun di negeri ini. Lihatlah, bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tujuh hari, memberi hormat padanya. Para pemimpin dari berbagai belahan dunia menyampaikan belasungkawa, terima kasih dan harapan-hrapan agar cita-cita Gus Dur diteruskan oleh siapa saja. Do’a-do’a, wirid-wirid, zikir-zikir dan mantra-mantra mereka bergemuruh berhari-hari memenuhi ruang maya, menembus langit demi langit sampai ujung tanpa batas. Bukan hanya Yusuf Kalla, mantan wakil Presiden, tapi juga beribu-ribu orang, yang bersaksi : “Sepanjang sejarah bangsa ini tak ada orang yang kematiannya diantarkan dengan kehormatan dan do’a oleh beragam identitas orang dan dalam jumlah yang begitu masif, kolosal, kecuali beliau: Gus Dur”. Bagaimana kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur seperti itu? Suara apakah gerangan yang membisikkan dan menggerakkan nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang seperti ini?. Tak ada jawaban rasional dan logis. Ia mungkin hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi dan orang-orang yang hatinya bening dan memancarkan cahaya Ketuhanan. Prosesi pemakaman Gus Dur seperti ini mengingatkan saya pada Sufi-Penyair terbesar sepanjang masa, dari Konya, Turki : Maulana Jalal al-Din Rumi. Begitu Rumi wafat, 16 Desember 1273, semua penduduk Konya larut dalam duka, nestapa yang panjang. Mereka menyelenggarakan ritual, penuh khidmat, selama 40 hari penuh. Jalan-jalan padat dalam suasana hiruk-pikuk yang luar biasa, konon, “bagai suasana Hari Kebangkitan.” Orang-orang Muslim, Kristen dan Yahudi bergabung untuk memberikan penghormatan pada acara pemakamannya. Kucing kesayangan Maulana Rumi ikut bersedih. Kucing itu tak mau makan dan minum sejak Maulana wawfat. Akhirnya kucing itu mati seminggu kemudian, dan dimakamkan oleh Malika Khatun, putri Maulana dari istri kedua, Kira Khatun, di sebelah makam Maulana Rumi. Cerita kucing yang mati bersama Rumi ini juga pernah saya dengar ketika menunggu jenazah Gus Dur diberangkatkan dari rumahnya di Ciganjur. Saya ingin mencoba menjawab fenomena dahsyat di atas, dalam perspektif sufisme, meski orang tak mempercayainya atau menganggapnya sebagai “khurafat”. Mengenai ini saya ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw (hadits Qudsi): إِنَّ اللهَ اِذَا اَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ .فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ يُنَادِى فِى السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ اَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ فَيُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِى الْاَرْضِ. رواه ابو هريرة. أخرجه مالك فى الموطأ, ص 209. “Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”. Atau seperti kata Nabi Muhammad Saw : طُوْبَى لِلْمُخْلِصِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا, وَاِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَاءَ. (رواه البيهقى) “Aduhai, betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal (tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. al Baihaqi). Atau seperti kata sang sufi besar Ibnu Athaillah al Sakandari : تَسْبِقُ اَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ أَقْوَالَهُمْ فَحَيْثُ صَارَ التَّنْوِيْرُ وَصَلَ التَّعْبِيْرُ “Cahaya orang-orang bijak bestari mendahului perkataannya. Maka ketika batin telah tercerahkan, kata-kata mereka sampai (ke lubuk hati pendengarnya)”. Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan hidup Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Maka Dialah yang membimbingnya. Maka mereka mencintainya. Ya, ini karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih dahulu dengan tulus. Maka getaran-getaran cinta itu menebar bagai cahaya dan menembus relung-relung jiwa mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang elektrik halus tetapi dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu menjadi terang benderang. Segera sesudah itu, begitu reflektif dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna padanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih sejuta sebutan lainnya. Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar”. Gus Dur adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”. Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan kurang ajar”, kata hati saya, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, katanya menuntaskan. Dan suasana berubah gemuruh, memecahkan jantung yang berdegup, lalu menjadi mengharu-biru, mengalirkan kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan. Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman masing-masing. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pengalaman adalah kebenaran sejati, meski tak bisa diraba, tak bisa dianalisis dengan nalar. Ia melampaui kecerdasan nalar. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar. Tetapi saya meyakini Gus Dur tak akan pernah meminta diberi sebutan apapun. Ia akan mengatakan “aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hamba Allah”. Ia tak pernah terganggu oleh sebutan-sebutan duniawi. Lebih dari 10 gelar kehormatan akademis tertinggi yang diterimanya dari berbagai universitas prestisius dunia, tak pernah dipakainya dan tak pernah disandangnya, bahkan bingkai-bingkainya tak dipasang di rumahnya. Ketika saya, suatu hari, memasuki salah satu kamar di rumahnya, saya melihat, bingkai-bingkai bertuliskan kata “penghargaan akademis” yang prestisus tersebut, hanya ditata rapi di atas meja. Gus Dur, tak seperti yang lain yang mengejar gelar-gelar kehormatan itu untuk membesarkan dirinya, bahkan meski dengan membayar berapapun. Gus Dur sudah besar dan terhormat, meski tak diberi sebutan kebesaran dan kehormatan apapun, termasuk gelar Pahlawan. Untik apa?. Terhadap penyebutan kehormatan di atas, Gus Dur mungkin akan menyanyikan syair ini : وَكُلٌّ يَدَّعِى وَصْلًا بِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَ Masing-masing boleh saja mengaku kekasih “Laila” Tetapi “Laila” tak mengakui semua itu Ya, Gus Dur, mungkin geleng kepala saja. Sekali lagi untuk apa?. Pujian-pujian dan dan bingkai-bingkai kehormatan itu untuk apa?. Gus Dur bebas dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan kini. Ia tak menginginkan apapun dan tak iri hati pada siapapun. Ia tak mengharap-harap dan meminta puja-puji apapun dan dari siapapun. Ia menerima apapun yang terjadi. Ia ridha atas segala yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Jiwanya tak tergantung pada apa-apa dan pada siapa-siapa. Gelar-gelar kehormatan tak menjadikannya lebih besar. Gus Dur hanya akan mengatakan : “Aku sudah bekerja”. “Aku sudah berjuang”. “Aku sudah “berperang”. “Aku sudah membagi cinta” dan “Aku sudah memaafkan”. Itu sudah cukup. Selebihnya terserah Tuhan”. Itu tentu karena Gus Dur telah membaca al Qur’an dan telah lama merenungkan maknanya : قُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ.وَسَتُرَدُّوْنَ اِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ. فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ. ( التوبة,105). “Katakan (wahai Muhammad): "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(Q.S. al Taubah,[9:105). Mengenai jawaban dan sikap Gus Dur tersebut saya ingat guru ngaji tua di sebuah pesantren, ketika saya bertanya soal makna Ikhlas. Dia hanya bilang, ada banyak makna mengenai ini, tapi bagiku ia adalah : “kamu telah bekerja untuk orang lain dan telah memberikan kegembiraan kepada mereka, tetapi kamu sendiri telah lupa, tak pernah ingat telah melakukannya”. Lalu adakah orang yang memberi makna sebaliknya terhadap Gus Dur?. Adakah orang yang membencinya dan senang atas kematiannya, atau paling tidak orang yang tak ambil peduli atas kepergiannya?. Seperti kehidupan yang warna-warni, Tuhan juga menciptakan keanekaragam individu dengan sifat kualitatif yang berbeda-beda. Keragaman ini akan terus ada sepanjang kehidupan belum selesai, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Keragaman adalah niscaya kealamsemestaan. Ia adalah anugerah Tuhan. Saya membaca di dunia maya beragam komentar sinis terhadapnya. Gus Dur yang sudah selesai menjalani hidup, tetap saja dicaci-maki dan dicemooh oleh sejumlah orang, seperti ketika ia masih dan sedang menjalaninya. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia tak pantas dipanggil Gus, karena ini panggilan untuk anak kiyai yang saleh. Lebih tepat ia disebut “Mr. Dur” atau sebutan lain. Bahkan Mr. Dur, kata mereka, tak layak disebut-sebut namanya lagi. Ia telah melukai hati umat dan menjual agamanya. Mereka mengingat apa yang pernah diucapkan dan dilakukan Gus Dur semasa hidupnya yang, kata mereka begitu banyak mengandung kekafiran kesesatan (bid’ah) dan kemusyrikan (menyekutukan Tjuhan). Kehadirannya di sejumlah gereja dan rumah ibadah lain, pendapatnya agar “Assalamu’alaikum” diganti dengan “Selamat pagi” atau “selamat siang”, persahabatannya dengan Yahudi, Israel, pembelaannya kepada non muslim adalah bentuk-bentuk kekafiran dan melukai umat Islam. Begitu juga prakarsanya untuk mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme dan Marxisme, serta konsistensinya yang luar biasa untuk menghargai keberagaman keyakinan manusia (Pluralisme) dan sejuta soal lainnya. Itu semua, kata mereka, adalah cacat-cacat Gus Dur yang tidak bisa dimaafkan. Untuk soal Pluralisme, mereka mengangap bahwa ia adalah paham yang sesat dan menyesatkan bahkan merupakan kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Ini karena pluralisme, menurut mereka, merupakan pengakuan atas kebenaran semua agama-agama dan semua keyakinan-keyakinan manusia. Dan ini dosa maha besar yang tidak akan diampuni. Pluralisme adalah Sinkritisme, kata mereka, dan itu sama saja dengan kemusyrikan, satu-satunya dosa yang tak terampuni. Di kutub yang lain lagi, saya melihat ada sejumlah orang yang tak bicara apa-apa ketika Gus Dur wafat. Mereka diam, membisu, geleng-geleng kepala, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi dan seakan-akan membiarkan Gus Dur pergi. Apakah makna diam mereka? Ah, dia orang biasa saja!. Peduli amat!. Tak mengerti apa-apa?. Apakah ia kebencian yang tak bisa meledak?. Luapan senang atas kematiannya yang tersekat?. O, apakah sesungguhnya makna diam mereka?. Simbol terperangah?, terkejut-kejut?, terbengong-bengong? Atau memang karena mereka tak lagi mampu mau bicara apa sesudah menyaksikan peristiwa maha dahsyat itu?. Diam memang menyimpan sejuta makna yang tak bisa kita pahami hari ini. Mungkin kita akan menemukan makna diam mereka kelak. Kita tunggu saja. Cirebon, 090112 http://huseinmuhammad.net/matahari-telah-pulang-2-memperebutkan-makna-gus-dur/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (1): Merenungkan Sufisme Gus Dur (Tulisan ini pernah dimuat di sejumlah media. Ringkasannya menjadi bagian dari buku “Gus Dur: Bertahta di Sanubari”, editor Anita Wahid, diterbitkan olehThe Wahid Institute, Pebruari 2010. Republikasi ini memenuhi permintaan keluarga, santri, sahabat, dan Gusdurian di desa, agar tulisan ini diterbitkan di FB, untuk mengenang Gus Dur. Karena panjang, tulisan akan dibagi dalam 7 seri). LANGIT DESEMBER YANG MURUNG (1) Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : “Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak meninggal, mbak Yenni di dalam”, suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram, murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf”. Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo’akan kesembuhannya dengan segera. Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo’a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu Nur, isterinya yang setia dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya. “Kita harus berangkat ke Jakarta sekarang juga”, kata saya kepada isteri. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Ciganjur, sms dari teman-teman dari segala macam identitas diri; Kiyai, Santri, Abangan, Pendeta, Romo, Bhiku, penganut Konghuchu dan Ahmadiyah, terus berhamburan masuk ke HP saya. Mereka menyatakan duka nestapa teramat dalam dan rasa kehilangan atas kepergian orang yang dicintainya. Saya tak mengerti mengapa mereka mengirim sms, selain ingin mengabari saya tentang wafatnya Gus Dur dan mendo’akan bagi orang yang mereka kagumi dan keluarga yang ditinggalkannya. Saya membalasnya singkat: “Dia yang selalu membagi kegembiraan, cinta dan harapan pada bangsa, Negara dan mereka yang tak berdaya, telah kembali kepada kekasihnya, dalam damai abadi”. Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba, jalan Warung Sila sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi “Presiden ke 4”, bukan “Mantan Presiden”. Saya tak bisa menghitung jumlahnya. Beberapa jam sebelumnya jalan ini macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak. Stagnan. Semuanya sengaja datang ke Ciganjur, ke rumah Gus Dur, menyambut kedatangannya dan menyampaikan ta’ziyah kepada keluarganya. Ketika saya tiba, ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah. Masjid al Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab “al Hikam”, karya Ibnu Athaillah, seorang sufi besar, dan kitab-kitab yang lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci al Qur’an. Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan. Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan demikian agar para pelayat bisa melihatnya. Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa puluh kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdo’a. Di hadapan tubuh yang masih utuh itu, saya teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf : “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasi diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan… maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (‘Alam al-Musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal”. Ya, itulah jiwa yang telah matang. Ia yang hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang dicintainya. Ia yang telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. Ia yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apapun dan tak tergantung pada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya. Ia yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman, tetapi yang tetap bisa bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya. Ia yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tiranik dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya. Begitu usai, saya masuk ke bagian dalam rumah yang kamar-kamarnya sudah lama saya hapal. Mencari ibu Shinta. Ibu sudah di dalam kamarnya yang tampak remang, didampingi tiga putriya, tentu dalam rinai tangis yang mengiris. Saya tak bisa menemui beliau untuk ta’ziyah, membesarkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusan. Begitu cara berta’ziyah yang saya terima dari persantren. Saya hanya bertemu Lissa, putri pertamanya dan menyampaikan ta’ziyah itu. Matanya masih tampak lebam dengan wajah sendu, tak bergairah, meski tetap bisa senyum. Saya diminta mengantarnya untuk melihat ayahnya, membuka tirai yang menutup wajahnya, lalu membaca tahlil dan berdoa. Lissa tertunduk dan terisak-isak lirih. Kami melihat dengan jelas wajah Gus Dur, sungguh, tampak ceria, tenang dan teduh. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai-Nya. Amin”. Ayat suci ini saya baca berulang. Masih dalam posisi berdiri sambil menunduk, saya segera teringat kembali syair yang acapkali ditembangkan Gus Dur : وَلَدَتْكَ اُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُوْنَ سُرُوراً فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ اَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا فِى يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا Ketika ibu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam Engkau menangis, sedang orang-orang di sekitarmu Menyambutmu dengan riang Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya, mereka menangis tersedu-sedu Sedang engkau pulang sendiri sambil tersenyum manis Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris. Sementara Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai. Usai shalat subuh dan ketika matahari beranjak naik, jenazah dibawa dan diantar dengan kehormatan kenegaraan, menuju Bandara Halim Perdana Kusuma dan terus ke rumah asal Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana jenazah akan diistirahkan selama-lamanya di samping ayah; K.H. Wahid Hasyim dan kakeknya; Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Para santri biasa menyebut Gus Dur, ayah dan kakeknya yang amat dihormati dengan “al Karim Ibn al Karim Ibn al Karim” (orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia). Kaum bangsawan Jawa mungkin menyebutnya : “Gus Dur adalah seorang darah biru putra seorang darah biru putra seorang darah biru”. Langit biru bening dilapis awan putih berarak, bergerak pelan-pelan mengantar pesawat yang membawa jasad Gus Dur. Di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, sebelum tubuhnya diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi ini : Jangan menangis: “Aduhai kenapa pergi!” Dalam pemakamanku Bagiku, inilah bahagia! Jangan katakan, “Selamat tinggal” Ketika aku dimasukkan ke liang lahat Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911) Bila datang ke makamku Untuk mengunjungiku Jangan datang ke makamku tanpa genderang Karena pada perjamuan Tuhan, Orang berduka tidak diberi tempat   http://huseinmuhammad.net/matahari-telah-pulang-1-merenungkan-sufisme-gus-dur/


See more learning institutes near Arjawinangun

About

Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjwinangun Cirebon

General Info

Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon

Founded

Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon was founded in K.H. Sanawi bin Abdullah bin Muhammad Salabi

Parking

Lot Parking No
Street Parking No
Valet Parking No

Suggestions

MAUNG SAKTI Paskibra Smk Assalam Gegesik

Jl. Raya Gegesik - Arjawinangun - Cirebon
Education, Organization

SMP Negeri 1 Jamblang Cirebon

Jl. Raya Bojongwetan
School, Education, Indonesian Restaurant

MIS. Mibarul Hidayah

Jl. Tameng Pati Rembes Tegalgubug Arjawinangun
School


Privacy Policy