Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon

Jl. KH. Syathori No. 10 Arjawinangun, Cirebon 45162


Latest Updates

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-10-31

Dunia ini adalah persinggahan atau (tempat transit), bukan tempat menetap. Manusia adalah pengelana/pengembara. Persinggahan pertamanya adalah di dalam liang lahat (kuburan). Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-10-03

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ya Allah dengan ridho dan rahmat-Mu perkenankanlah kami menyelenggarakan syukuran pernikahan putra-putri kami NELA NAYILAH AUTHAR (Putri Kedua KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidillah Sy. & Hj. Fuaidiyah dengan MUHAMMAD IQBAL (Putera Pertama KH. Aminuddin & Hj. Siti Sofiah) Resepsi Pernikahan: Minggu, 15 Oktober 2017 / 25 Muharram 1439 H Pukul 10.00 WIB Bertempat di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun-Cirebon Akad Nikah: Telah dilaksanakan pada hari Senin, 18 September 2017 / 27 Dzulhijjah 1438 H Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara berkenan hadir untuk memberikan doa. Atas kehadirannya kami haturkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-07-13

Sedikit informasi untuk SMP Plus Dar Al Tauhid . Arjawinangun, Cirebon.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-07-13

Sedikit informasi MA Nusantara . PP Dar Al-Tauhid , Arjawinangun Cirebon.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-24

Perincian biaya pendaftaran Madrasah Diniyah Dar Al Tauhid . Th 2017-2018 .

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-23

Beberapa informasi dan Perincian biaya daftar ulang bagi santri lama PP Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, tahun ajaran 2017 - 2018 . Terimakasih #santribaruDT17

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-06-23

Assalamualaikum Wr.Wb Berikut ini adalah perincian biaya dan beberapa informasi mengenai pendaftaran santri baru PP Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, tahun ajaran 2017-2018 . Ket : - Jumlah yang tertera di akhir, belum menyertakan biaya pendaftaran Madrasah Diniyah Dar Al-Tauhid yang wajib diikuti setiap santri. (Informasinya akan kami umumkan) - Bagi yang berminat mendaftarkan di MA Nusantara atau SMP Plus Dar Al-Tauhid, akan kami umumkan juga informasinya. #santribaruDT17

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2017-05-30

Inna Lillah wa Inna ilaih Rajiun. Telah meninggal dunia, Dewan Pengasuh PP. DT. arjawinangun cirebon, Prof. Dr. KH. A. Chozin Nasuha, hari ini Selasa, 30/05/17...4 Ramadhan 1438H, jam 17.00.

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-11-14

Dapatkan update terbaru pemikiran-pemikiran KH. Husein Muhammad melalui aplikasi Android. https://play.google.com/store/apps/details?id=com.apps.buyahusein

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-11-07

“Aku telah menjual ruhku dalam ruang sirkuit rindu-dendam yang menderu-deru. “Isyq” (rindu dendam) adalah makananku, tanpa itu aku akan mati. Jangan takdirkan aku tanpa rindu-dendam kepada Layla. Duhai Tuhan, tuangkan air bening rindu. Cemerlangkan mataku dengan celak hitam selamanya. Duhai Tuhan, tambahkan aku rindu kepadanya. Bila umurku pendek, tambahkan rindu itu kepadanya. Duhai Tuhan, tambahkan rinduku kepada Layla, dan jangan biarkan aku melupakan dia selama-lamanya.”

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Mengikuti adalah Memahami Maksudnya Seluruh kaum muslimin di manapun dan kapanpun meyakini dengan sesungguh hati bahwa Sunah Nabi Muhammad adalah sumber utama kedua, sesudah al-Qur’an, bagi segala pikiran dan tindakan dalam kehidupan mereka. Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang memerintahkan kaum beriman untuk mentaati Rasul-Nya. Dalam salah satu ayat al-Qur’an dinyatakan bahwa mentaati Rasul Allah adalah sama dengan mentaati Allah. : مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا “Barangsiapa mentaati Rasul, maka dia, sungguh, juga, mentaati Allah Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga mereka.(Q.S. al-Nisa,[4]:80) Nabi juga menyatakan : مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ “Barangsiapa mentaatiku, maka dia sungguh telah mentaati Allah. Siapa yang mencintaiku, maka Allah mencintainya”. Hal ini karena Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang ditugaskan untuk menjelaskan apa yang diwahyukan Allah. Al-Qur’an menyatakan : وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan”. (Q.S. al-Nahl, [16]:44). Akan tetapi bagaimanakah cara kita mengikuti Nabi ?. Imam al-Ghazali, menjelaskan dengan indah persoalan ini, sesuai dengan petunjuk ayat di atas. إذا قلد صاحب الشرع فى تلقى أقواله وأفعاله بالقبول فينبغى أن يكون حريصا على فهم أسراره . فإن المقلد انما يفعل الفعل لان صاحب الشرع فعله وفعله لا بد وان يكون لسر فيه فينبغى أن يكون شديد البحث عن أسرار الاعمال والاقوال . فإنه إن اكتفى بحفظ ما يقال كان وعاء للعلم ولا يكون عالما. ولذلك يقال : فلان من أوعية العلم. (إحياء علوم الدين 1 ص 78.) “Jika seseorang menyatakan diri mengikuti Nabi, baik dalam ucapan maupun tindakannya, maka seyogyanya dia mempunyai keinginan kuat untuk memahami rahasia (maksud yang terkandung) di dalamnya. Dia tentu melakukan hal itu karena Nabi melakukannya. Dan beliau melakukan tindakan itu tentu karena ada maksudnya. Maka seyogyanya dia (pengikut) berusaha dengan sungguh-sungguh mengkaji kandungan-kandungan (maksud-maksud) dari apa yang diucapkan dan dikerjakan beliau. Bila dia hanya menghafalnya, maka dia hanyalah wadah dari pengetahuan dan bukan seorang yang mengerti (alim/ulama). Orang Arab mengatakan : “Fulan min Au’iyah al-Ilm” (Si Fulan adalah wadah ilmu). (Imam al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, I/78). http://huseinmuhammad.net/mengikuti-adalah-memahami-maksudnya/

@Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon 2016-10-28

Matahari Telah Pulang (5): Sang Zahid Sering Tak Punya Uang Kisah-Kisah Tak Punya Uang Dulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya dia, beberapa tahun membantu di rumah Kiyai Fuad Amin (alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU. Surahman pernah bercerita kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani (melayani) Gus Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan umatnya di daerah-daerah ; ada pengurus NU, Kiyai, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain. Surat-surat itu dibacanya satu per satu. Kebanyakan isinya adalah permohonan bantuan dana untuk keperluan yang beragam, baik untuk fasilitas organisasi, pembangunan masjid, mushalla, madrasah, pesantren atau untuk diri sendiri dan keluarganya yang sedang kekurangan biaya hidup. Gus Dur membacanya satu persatu dengan teliti. Ia lalu mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkannya. Kemudian ia menulis dengan tangannya sendiri. Di dalamnya ia menuliskan angka rupiah tertentu. Gus Dur mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Gus Dur lalu memanggil Surahman dan memintanya membawa pos-pos wesel itu ke kantor Pos dan mengirimkannya ke alamatnya masing-masing. Bersama dengan kartu-kartu pos wesel itu Gus Dur juga menyerahkan uangnya. Saat itu tidak ada orang lain di situ, kecuali dirinya (Surahman). Pengurus PBNU yang lain tak pernah tahu soal yang satu ini. Jika kemudian ada yang tahu, maka pastilah dari mulut Surahman sendiri, tidak yang lain. Bukan sekali saja Surahman diminta mengerjakan tugas pribadi tersebut, dan dia tidak tahu Gus Dur masih punya uang lagi atau tidak, sesudah itu. Adik saya, sekaligus keponakan Gus Dur; Nanik Zahiro, juga bercerita kepada saya. Dia pernah kuliah di Institute Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta, awal tahun 90 an, dengan biaya dari Gus Dur. Setiapa bulan dia datang ke PBNU untuk bertemu pamannya itu, mengambil uang kost dan biaya kuliahnya. Suatu hari dia pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga. Dia sudah minta kiriman dari ayahnya di Tambak Beras, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke Gus Dur di kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan dan mendadak. Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan: “Tunggu sebentar ya, Nan?. Saya akan seminar dulu”. Tidak lama sesudah itu beliau kembali dan menyerahkan amplop honor seminar yang masih tertutup rapat itu kepada keponakannya itu. “Ambil seperlunya saja ya?”, katanya. Nanik menerimanya dengan senang. Tetapi sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, gak apa-apa”. Suatu hari, di tengah mengaji kitab kuning, Ibu Shinta bercerita tentang keadaan keuangan organisasinya : “Puan Amal Hayati” yang makin berkurang dan tidak mencukupi untuk membiayai kegiatannya pada bulan-bulan berikutnya. Puan adalah organisasi yang didirikan tahun 2001 untuk pemberdayaan kaum perempuan pesantren. Saya ikut mendirikannya dan menjadi wakil beliau sampai hari ini. Keadaan keuangan Puan yangkembang kempis itu kemudian diketahui Gus Dur. Saya tidak tahu dari mana, tetapi sangat mungkin Ibu Shinta menceritakannya kepada beliau ketika berdua di kamar tidurnya. Tak lama setelah itu, Gus Dur, kata Ibu, segera mengambil honor artikel-artikelnya di media. Lalu uang itu seluruhnya diberikan untuk organisasi isteri tercintanya itu. Dalam laporan keuangan Puan yang kemudian disampaikan kepada pengurus, saya membaca dengan jelas: “bantuan Gus Dur, bantuan Gus Dur, bantuan Gus Dur, dan nama itu disebut berkali-kali berikut nominalnya. Oh, Gus Dur! Saya mendesah panjang. Gus Dur sering tak punya uang, karena setiap punya uang ia bagikan kepada orang lain atau pihak yang memerlukannya. Banyak cerita orang dekat Gus Dur yang bercerita soal kelakuannya seperti itu, termasuk ketika ia menjadi Presiden. Pak Mahfud MD, antara lain, bercerita ketika mendampinginya dan menjadi pembantunya sebagai Menteri. Gajinya sebagai Presiden diberikan kepada orang-orang yang memerlukannya atau yang menurutnya membutuhkan meskipun tak diminta, termasuk kepada menterinya. Gus Dur, kata Pak Mahfud, pernah memberikan sebagian gaji pertamanya kepada Alwi Shihab, sambil mengatakan : “Nih Alwi, untuk beli jas, masa Menteri jasnya jelek begitu”. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak muda yang diangkat sebagai menterinya : AS. Hikam. Sambil menyerahkan sebagian uang gajinya, kepadanya Gus Dur bilang : “Nih untuk beli sepatu, masa Menteri sepatunya butut”. Gus Dur mengatakan penilaiannya meski matanya tak bisa melihat. Kebiasaannya memberi kepada orang-orang yang memerlukannya, dilakukan Gus Dur tanpa menanyakan apaka mereka benar-benar membutuhkannya atau hanya pura-pura saja. Ia tak peduli. Gus Dur juga tak pernah meminta orang lain menyelidikinya. Ia juga memberikan tanpa melihat siapakah dia. Ia memang dalaam segala keadaan tak pernah bertanya-tanya mengenai identitas primordial seseorang. Baginya semua orang sama saja, hamba Allah. Ia bahkan juga memberikan kepada orang yang pernah dan masih terus mengkritik pikiran-pikirannya baik secara bisik-bisik maupun terbuka. Teman saya yang sudah disebut, pernah menceritakan orang tipe yang tertakhir ini. Ia dulu adalah santri dan temannya di pesantren Tebuireng, sekaligus mengaji kepada Gus Dur. Jadi ia adalah santrinya sendiri. Kini ia menjadi Kiyai terkenal dan mempunyai pesantren cukup besar dan terkenal di Jakarta. Sang kiyai suatu hari datang menemui Gus Dur di Ciganjur dan memohon bantuannya untuk pengembangan pesantrennya. Ia menceritakan dengan cukup detail tentang pesantrennya yang semakin berkembang dan tak lagi mencukupi. Ia lalu menyebutkan angka tertentu. Gus Dur mendengarkannya dengan tekun, lalu bilang kepada kiyai tersebut: “Saya tak punya uang sebesar itu, tapi Insya Allah saya akan berusaha mencarikannya. Sampeyan ikut berdoa saja ya”. 3 Juta modal jadi Presiden Manakala Gus Dur menyampaikan dirinya akan menjadi Presiden, jauh hari, mungkin setahun atau beberapa bulan, sebelum benar-benar jadi Presiden, ia ditanya sahabat dekatnya, tentang jumlah uang yang dipersiapkan untuk menjadi orang nomor satu di negerinya. Menurutnya bila orang mau jadi pejabat Negara di level manapun pastilah sudah mempersiapkan sejumlah uang besar untuk “membeli suara” para pemilihnya. Tak peduli darimana dia memperoleh uang tersebut. Apalagi untuk menjadi Presiden. Sahabat Gus Dur itu sangat paham “tradisi” memberi amplop itu. Gus Dur kemudian, tanpa piker panjang, bilang : “tiga juta”. Hah, sang sahabat tadi terperangah, tak percaya, lalu tersenyum-senyum getir, sambil mengatakan :”Tiga juta rupiah itu untuk beli aqua bagi anggota MPR saja tidak cukup Gus”. Mendengar itu Gus Dur hanya bilang dengan tenang : “ya sudah, kalau gak jadi presiden juga gak apa-apa. Wong saya gak punya uang kok”. Dan Gus Dur pun benar-benar menjadi Presiden ke IV, tanpa mengeluarkan uang satu rupiahpun. Ia memenangkan perebutan kursi Presiden atas Megawati. Hari-hari Gus Dur adalah hari-hari yang padat agenda bertemu banyak orang untuk keperluan yang beragam. Di samping menghadiri seminar, diskusi, memimpin rapat-rapat, menulis, mengaji, menghadiri pernikahan atau menikahkan, berziarah, ia juga menghadiriHaflah Imtihan di pesantren. Haflah Imtihan adalah istilah untuk upacara perayaan usai ujian dan mengakhiri kegiatan selama setahun di Pesanten. Teman saya yang setia mendampingi Gus Dur bercerita kepada saya. Suatu hari Gus Dur hadir untuk memberikan ceramah haflah imtihan di sebuah pesantren di Cirebon. Usai ceramah, Panitia menyalaminya sambil mencium tangannya bolak balik. Lalu menyalaminya sekali lagi untuk memberi amplop. “Ngapunten Gus, niki kangge transport”, ujarnya. Begitu ia menerimanya, ampop itu segera diberikan kepada teman saya si pendamping tadi dan berpesan agar dibagikan untuk siapa saja yang menyertainya dalam perjalanan, termasuk untuk makan dan bensin kendaraan. Setiap Gus Dur menerima amplop, ia tak pernah membukanya dan tak pernah bertanya berapa isinya. Ia juga tak pernah menceritakan kepada siapapun soal rizki yang sudah dibagikannya untuk mereka yang memerlukannya itu, kecil maupun besar. Akhirnya, dalam obrolan di rumahnya di Ciganjur, beberapa waktu sesudah Gus Dur pulang, beberapa orang teman menceritakan tentang keinginan atau niat “bapak” yang belum dipenuhi dan diwujudkannya, sampai kepulangannya tanggal 30 Desember 2009 itu. Entah di mana tempatnya, dalam obrolan malam di rumah atau di perjalanan, “bapak”, kata mereka, bercita-cita ingin membuatkan rumah untuk orang-orang yang membantunya selama ini. Konon, bapak sudah bertanya-tanya soal harga tanah di suatu tempat. Bila kelak ia punya uang, tanah itu akan dibelinya, lalu dibangunkan rumah sederhana untuk mereka. Ya, mereka yang setia menunggu malam-malam sambil menjaganya, yang siap dipanggil kapan saja jika “bapak” memerlukannya, yang menuntun dan membawanya kemana saja, yang menjaga rumahnya. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada saya: “Apakah itu Nazar atau Wasiat”?. Saya bilang: bukan, tetapi keinginan yang sungguh-sungguh. Memaknai Zuhud dan Zahid Maka Gus Dur memang sering tak punya uang, meski ketika ia menjadi Presiden. Ia seorang zahid, seorang darwis. Sang Zahid di manapun sering tak punya uang, sebab uang baginya punya uang atau harta benda bisa akan dan sering mengganggu pikiran dan jiwanya, melalaikannya dari tugas mengabdi dan mengingat Tuhan. Gus Dur pernah suatu saat menyampaikan ayat “Alhakum” atau “al-Takatsur”. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. ….. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di d