PP.Anahrawi syahdatuttholibin

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53471


Latest Updates

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-10-27

MENGEJUTKAN!!! Refly Harun Inginkan Undang-undang Ormas Dibatalkan MK, Ini Alasannya. Headline, Nasional, Politik. Jakarta - Refly Harun, Ahli hukum tatanegara yang kita ketahui merupakan pendukung setia Presiden Jokowi, secara mengejutkan menolak Perppu Ormas yang baru saja disahkan menjadi undang-undang. Refly menuangkan pemikirannya melalui tulisan, dimana Ia mengatakan betapa berbahayanya Perppu ini bila suatu saat jatuh ketangan pemimpin yang kuat, yang berwatak antidemokrasi. Sama seperti undang-undang subversif yang terbit pada era Orde Lama, yang dimaksudkan untuk membungkam lawan politik Sukarno, kemudian warisan ini juga digunakan oleh penguasa Orde Baru untuk membungkam lawan-lawan politiknya juga. Perppu memfasilitasi penguasa untuk bisa membubarkan ormas apapun tanpa proses hukum (due process of law), dengan alasan yang sangat beragam dan karet. Berikut tulisan lengkapnya, Silahkan baca sampai habis! IRASIONALITAS PERPPU ORMAS Oleh: Refly Harun Pembelahan politik atas kanan-kiri, yang kembali mencuat saat dan pasca-Pilkada DKI 2017, membuat masyarakat kehilangan rasionalitas, termasuk kelompok kelas menengah terdidik. Irasionalitas tersebut sangat tertangkap kala menyimak debat soal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan, atau yang lebih dikenal dengan Perppu Ormas. Bagi kelompok kiri dalam spektrum politik Indonesia, yang saat ini banyak berkumpul di bawah panji pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Perppu Ormas adalah sebuah keharusan untuk menangkal (bahkan membasmi) kelompok-kelompok yang mereka anggap radikal, intoleran, bahkan anti-Pancasila. Kelompok kanan, sebaliknya, menyatakan Perppu Ormas hanyalah cara penguasa untuk menindas umat. Kangaja dipakai untuk menunjukkan kekananannya. Bagi kelompok kiri, Perppu Ormas adalah imajinasi tentang musnahnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan cara mudah (tanpa pakai ba-bi-bu proses pengadilan lagi). Imajinasi bisa jadi mengarah pula pada kelompok-kelompok yang dianggap radikal lainnya. Bagi kelompok kanan, bahasa hiperbola terus dipakai, bahwa Perppu Ormas akan terus dipakai untuk memberangus kelompok-kelompok Islam di Indonesia. Sudah pasti kelompok Islam yang kritis terhadap pemerintahan sekarang (karena ada juga kelompok Islam yang mendukung pemerintah). Anehnya, para intetelektual yang berada di bawah panji kanan dan kiri tersebut ikut ambil posisi tanpa mau berpikir lagi. Posisi menentukan ide, begitulah yang terjadi. Tak ada yang berdebat soal substansi. Yang ada hanya jargon: menolak perppu berarti mendukung radikalisme, termasuk mendukung HTI, kosa kata yang mulai sama menakutkannya dengan PKI di era Orde Baru. Sebaliknya, mendukung perppu berarti menantang dan menentang umat. Lagi-lagi kapakai, kata yang sama seramnya dengbri-hari belakangan ini. Soal Substansi Saya pribadi dari awal menolak perppu, bukan karena pro terhadap salah satu kelompok. Cobalah menyimak secara jernih isi perppu. Kita akan tahu betapa berbahayanya perppu ini bila suatu saat jatuh ke tangan pemimpin yang kuat, yang berwatak antidemokrasi. Sama seperti undang-undang subversif yang terbit pada era Orde Lama, yang dimaksudkan untuk membungkam lawan politik Sukarno, tetapi warisan ini kemudian digunakan penguasa Orde Baru untuk membungkam lawan-lawan politiknya juga. Perppu memfasilitasi penguasa untuk bisa membubarkan ormas apapun tanpa proses hukum (due process of law), dengan alasan yang sangat beragam dan karet. Sering mereka yang pro perppu menyatakan bahwa aturan ini digunakan untuk menangkal ormas-ormas radikal anti-Pancasila. Kalau pun ini dianggap benar, tidak bisa suatu organisasi dibubarkan begitu saja dengan mengatakannya anti-Pancasila. Siapa yang bisa menyatakan suatu ormas anti-Pancasila? Masyarakat, intelektual atau akademisi, media, atau siapa? Perppu Ormas menyerahkan itu semua kepada pemerintah (bisa kepada Menteri Dalam Negeri bila ormasnya hanya terdaftar atau kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia bila ormasnya berbadan hukum). Dari mana Mendagri atau Menkum HAM menetapkan sebuah ormas anti-Pancasila? Tidak jelas, bisa dari mana saja. Bisa dari komentar-komentar kelompok kiri atau juga dari pemberitaan media, atau dari rekaman video yang sangat mudah didapatkan karena eragadget seperti saat ini. Inilah soalnya dengan perppu. Pemerintah menjadi penafsir tunggal Pancasila seperti pada era Orde Baru. Cara ini bagi pendukung perppu dianggap sebagara haegara hadir untuk apa? Apakah negara hadir untuk membungkam kebebasan berserikat dan berkumpul? Maling yang tertangkap basah saja dilarang digebuki dan dihukum tanpa putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, apalagi ormas yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan kental dengan hak asasi manusia (freedom of association). UU Nomor 17 Tahun 2013 telah secara pas memberi peluang ormas anti-Pancasila untuk berubah dengan langkah persuasif. Sebelum dimintakan pembubaran ke pengadilan, pemerintah terlebih dulu membina ormas dimaksud. Tidak mempan dibina, ormas tersebut diperingatkan. Bila tetap membandel dihentikan bantuan dan kegiatannya. Barulah kemudian dimintakan pembubaran ke pengadilan bila semua langkah tidak mempan dilakukan. Bukan langsung main dibubarkan begitu saja tanpa proses pengadilan. Kalaupun ada peringatan hanya dalam tujuh hari kerja saja, yang menunjukkan pemerintah tidak berniat sungguh-sungguh untuk membenahi ormas dimaksud. Tidak heran bila orang sekaliber Profesor Salim Said saja mengkritik perppu dan mengatakan, apakah kita mau kembali ke era Orde Baru dengan menyerahkan tafsir tunggal Pancasila kepada pemerintah? Kita tahu, pada era Orde Baru, manti-Pancasnjadi sangat ampuh untuk membungkam lawan politik. Tafsir anti-Pancasila itu sendiri bisa berbeda dari pemerintahan ke pemerintahan. Pada era Orde Lama Sukarno, dikatakan anti-Pancasila kalau menolak nasakom (nasionalis, agama, dan komunis). Misleading Kappu Ormas anti-Pancasu sendiri sangat menyesatkan. Perppu sesungguhnya memuat sangat banyak alasan untuk membubarkan sebuah ormas. Perppu berisi kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi ormas yang kalau tidak dijalankan akan bisa berbuah pembubaran. Jadi tidak mesti anti-Pancasila. Biar lengkap sebagai infomasi, berikut alasan yang dapat digunakan untuk membubarkan sebuah ormas tanpa proses hukum: a. Menggunakan nama, lambang, bendera, atau atribut yang sama dengan nama, lambang, bendera, atau atribut lembaga pemerintahan; b. Menggunakan dengan tanpa izin nama, lambang, bendera negara lain atau lembaga/badan internasional; c. Menggunakan nama, lambang, bendera, atau tanda gambar yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau tanda gambar ormas lain atau partai politik; d. Menerima dari atau memberikan kepada pihak manapun sumbangan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; e. Mengumpulkan dana untuk partai politik; f. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan; g. Melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia; h. Melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; i. Melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; j. Menggunakan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang; k. Melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; l. Menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. Selain melakukan larangan-larangan di atas, ormas juga bisa dibubarkan bila tidak melakukan kewajiban-kewajiban sebagai berikut: a. melaksanakan kegiatan sesuai dengan tujuan organisasi; b. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI; c. memelihara nilai agama, budaya, moral, etika, dan norma kesusilaan serta memberikan manfaat untuk masyarakat; d. menjaga ketertiban umum dan terciptanya kedamaian dalam masyarakat; e. melakukan pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel; f. berpartisipasi dalam pencapaian tujuan negara. Selain larangan dan kewajiban tersebut, ada pula larangan dan kewajiban bagi ormas yang didirikan warga negara asing, yang kalau dilanggar atau tidak dilaksanakan juga akan bisa berakibat pembubaran. Poin-poin tersebut sesungguhnya sudah tercantum dalam UU Nomor 17 Tahun 2013 sehingga sesungguhnya tidak ada kekosongan hukum. Yang berbeda hanyalah penjelasan tentang ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. Dalam UU Nomor 17 Tahun 2013, yang dimaksud dengan ‟ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila‟ adalah ajaran ateisme, komunisme/marxisme-leninisme. Sedangkan dalam Perppu Ormas, yang dimaksud dengran atau paham yang bertentangan dengan Pancastara lain ajaran ateisme, komunisme/marxisme-leninisme, atau paham lain yang bertujuan mengganti/mengubah Pancasila dan UUD 1945. Sekadar catatan, fraam li diselipkan di penjelasan pasal, bukan dalam pasal, sehingga secara teknis sesungguhnya telah terjadi penyelundupan norma baru dalam pasal dimaksud. Preseden Mahkamah Konstitusi (MK) selama ini, norma-norma yang muncul dalam penjelasan biasanya dibatalkan atau dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat bila dimintakan pengujian. Jadi, ada kata-kaam lang memungkinkan untuk menjangkau organisasi selain ateis dan komunis, yaitu yang mau mengganti/mengubah Pancasila dan UUD 1945. Padahal, organisasi yang bermaksud mengubah setidaknya UUD 1945 itu banyak. Organisasi mantan-mantan tentara era Orde Baru seperti Try Soetrisno dan Sayidiman Suryohadiprodjo juga ingin mengganti UUD 1945 sekarang dengan versi asli yang ditetapkan PPKI pada 18 Agustus 1945. Apakah organisasi ini bisa dibubarkan? Kalau ukurannya perppu, bisa dan tanpa perlu pengadilan. Selaam ldi, yang membedakan perppu dengan UU Nomor 17 Tahun 2013 adalah dihilangkannya proses hukum dalam pembubaran ormas. Sering saya ambil contoh begini, bila menjelang pemilu masih ada organisasi sayap parpol yang pecah dan jadi kembar (seperti MKGR dan Kosgoro), salah satu pengurus tinggal mendatangi pemerintah agar membubarkan organisasi tandingannya. Selama ini mereka berseteru di jalur pengadilan. Sekarang, dengan Perppu Ormas, tinggal mendekati pemerintah. Hal ini ternyata sudah terjadi dengan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) yang kembar. Satu organisasi telah dibubarkan Menteri Hukum dan HAM. Rasionalitas MK Di tengah deras arus irasionalitas kelompok kanan-kiri saat ini, susah menjelaskan Perppu Ormas secara jernih dan berakal budi. Yang ada hanya puji dan caci-maki. Pendapat cocok dipuji, pendapat berbeda dicaci maki. Tak heran banyak pakar hukum tatanegara yang tiarap tanpa mau mengambil risiko. Dengan disahkannya Perppu Ormas menjadi undang-undang, saya berdoa semoga undang-undangnya dibatalkan oleh MK. Saya akan sangat heran bila MK sebagai the guardiant of the Constitution membenarkan sebuah produk undang-undang yang melakukan penghukuman tanpa proses hukum. Hal ini jelas-jelas mengingkari prinsip negara hukum (rule of law). Kalau akhirnya hakim-hakim MK pun ikut terbelah dalam kalkulasi politik kanan dan kiri, atau terbawa arus pandangan pragmatis, saya hanya berdoa produk undang-undang ini hanya sekadar kemenangan simbolis kelompok kiri dalam politik kita yang terluka pasca-Pilkada DKI. Perppu Ormas yang sudah menjadi undang-undang tersebut tidak digunakan Presiden Jokowi atau para menterinya untuk memberangus organisasi-organisasi yang tidak sejalan dengan pemerintah. Pun oleh penguasa-penguasa pasca-Jokowi. Kita tidak ingin masa kelam Orde Lama dan Orde Baru terulang lagi karena kita abai memperingatkan penguasa selagi kita masih mampu melakukannya. Lain halnya kalau kritik pada penguasa pun mulai dibungkam dengan sejumlah ancaman. Bila terjadi, itu alarm bagi demokrasi kita. Refly Harun ahli Hukum Tatanegara; Ketua Pusat Studi Ketatanegaraan (PUSARAN) Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara, Jakarta. [lo] #copas

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-10-23

kisah kakek tukang adzan ya di anggap gila.. Suatu ketika sang kakek pulang dari ladang dan seperti biasa si kakek langsung mmbersihkan badan dan siap berangkat ke masjid untuk adzan zduhur. namun sampai adzan selesai tak seorangpun datang untuk sholat berjama ah.. hingga akhirnya hanya si kakek sendiri di masjid. yah dari adzan,iqomat,ma mum hingga imam di lakukan si kakek seorang diri (seperti pekerja borongan) waktu sholat ashar pun tiba si kakek datang paling awal untuk melakukan adzan tapi tak seorang pun datang untuk sholat berjama ah begitu juga sampai datang waktu sholat maghrib, dan isya tak seorangpun datang ke masjid untuk sholat berjama ah .. keesokan hari si kakek pulang dari ladang lebih awal.. seperti biasa si kakek langsung membersihkan badan dan berpakaian rapi langsung berangkat ke masjid. bnyak warga yg heran sama si kakek...yah karena waktu masih mnunjukan jam 9 pagi.. warga : kek mau kemana? (tanya salah seorang warga) kakek : kemasjid mau sholat dzuhur sambil berlalu(jawab si kakek) warga : ah si kakek sudah pikun kayaknya. sesampainya di masjid si kakek pun langsung melakukan adzan dgn suara yg lantang sambil sesekali mngambil nafas panjang.. sontak warga pun kaget mndengar suara adzan sang kakek. si kakek sudah gila kayaknya timpal salah seorang warga.. kakek edan.. timpal seorang warga yg lain.. lalu berdatangan lah warga rame2 ke masjid untuk menegur sang kakek.. kakek udah gila ya jam segini adzan.(teriak serang warga kesall) dasar kakek gila timpal warga yg lain. lalu si kakek berbicara dgn tenangnya sambil melangkah pulang.. Kemarin saya adzan tepat waktu kalian gk pada datang sekarang saya adzan jam 9 kalian pada datang. jadi yg gila siapa??? warga pun terdiam membisu.. sambil tertunduk malu akhirnya warga pun membubarkan diri.. akhirnya setelah kejadian itu masjid pun masih sepi jg..😂😂😂😀😀

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-08-31

Hadharah dan Madaniyah Peradaban itu adalah kumpulan pemahaman atas kehidupan, dan ianya bisa terbagi menjadi dua, yakni peradaban yang terpengaruh aqidah (ideologi) dan yang bebas darinya Sebut saja yang ada pengaruh aqidah sebagai hadharah, dan yang tak terpengaruh aqidah sebagai madaniyah, dari situ kita bisa memutuskan mana boleh mana tak boleh Maka jelas, kapitalisme, sosialisme, dan semua turunannya adalah hadharah yang tak boleh diambil, sedang ilmu pengetahuan adalah madaniyah yang boleh diambik Muslim Maka jelas, perayaan tahun baru, hari raya natal, dan semua hari raya yang berkaitan dengan aqidah tak boleh diambil, sedang media sosial, teknologi, boleh saja Intinya ada pada aqidah. Bila sesuatu itu mengandung atau dipengaruhi aqidah, maka dia tak boleh diambil, sebab kita mengambil sesuatu selain Islam Contoh lagi, Newton menemukan gravitasi, ini bagian madaniyah, bukan hadharah, sebab tak terpengaruh aqidah, mau siapapun yang menemukan, tetap g = 9.8 m/s Tapi pandangan filsafat barat tentang tatanilai, pemerintahan, keadilan, kesejahteraan, pemerataan ekonomi, semunaya bagian hadharah, yang tak boleh ditiru Maka kalung salib, rosario, kaos bergambar Yesus, dan semisalnya bagian dari hadharah, sementara facebook, twitter, instagram, itu bagian dari madaniyah, begitu adanya Maka kita menolak tahun baru sebab itu tak ada dalam agama kita, melakukannya berarti menyerupai orang kafir, sebab tahun baru adalah perayaan yang terpengaruh aqidah Lalu orang berkaapa masih pakai facebook dan instagrni tanda orang itu belum memahami, mana yang terpengaruh aqidah mana yang tidak Mana yang boleh diadopsi dan mana yang tidak boleh, dan wajar, yang bicara begini pasti yang belum paham, tugas kita memberi pengertian dan memahamkan Islam tidak menolak segala yang berasal dari luar Islam, tapi Islam juga tidak menerima semuanya, sebab Islam punya identitas, dan semuanya dari aqidah yang benar Coba pikir, bila kita mengaku Muslim, tapi aktivitas kita, gaya kita tak ada beda dengan yang kafir, lalu apa pengaruh Islam bagi kita? Atau jangan-jangan kita yang tak paham Islam? copas

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-06-29

Benar tidaknya video ini hanya allah yg tau. bagus agar kita sadar siapa diri kita.😢😭😢😢

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-06-05

*Filosofi Gula & Kopi* ☕ ```Kasus 1 Jika kopi terlalu pahit Siapa yang salah..? 🤔 Gula lah yg disalahkan karena terlalu sedikit hingpi pahit 😫 Kasus 2 Jika kopi terlalu manis Siapa yg disalahkan..? 🤔 Gula lagi karena terlalu banyak hingpi manis 😰😫 Kasus 3 Jika takaran kopi & gula balance Siapa yg di puji...?🤔 Tentu semua akan berkata... Kopinya mantaaap 🤓 Kemana gula yg mempunyai andil Membupi menjadi mantaaap ? 🙄🤔 Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.😊 Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS...😒 bukan KOPI GULA...😑 Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnya TEH MANIS...😨 bukan TEH GULA..😪 ORANG menyebut ROTI MANIS..😔☹ bukan ROTI GULA...😥 ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU..🙄😓🤒😧 padahal BAHAN DASARnya GULA.... Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS... 😪😂 akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut.. PENYAKIT GULA 😱😤😖😡😠😡 BEGITUlah HIDUP.... Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT ORANG.... Tapi kesalahan akan DIBESAR-BESARKAN... IKHLASlah seperti GULA... LARUTlah seperti GULA... Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN...!!!! Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT... tapi untuk DIRASAkan👍```aikan yang engkau lakukan HARI INI, mungkin BESOK dilupakan ORANG. Tetap teruslah BERBUAT BAIK☕ selamat pagi dan selamat menjalankn ibadah puasa.... Marhaban ya Ramadhan. 😇😇 Indahnya berbagi... 😊🤗

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-31

Tata Cara Wudhu untuk Orang yang Puasa Pertanyaan: Assalaamu’alaikum, Ustadz mau nanya nih, bagaimana wudlunya orang yang berpuasa ? tetap berkumur apa nggak ? Tks… Dari: Zazam Jawaban: Wa alaikumus salam Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Tata cara wudhu orang yang puasa sama dengan tata cara wudhu pada umumnya. Artinya tetap melakukan kumur-kumur, dan menghirup air ke dalam hidung. Hanya saja, tidak boleh terlalu keras, karena dikhawatirkan bisa masuk ke lambung. Berikut beberapa dalilnya, Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا Sempurnakanlah wudhu, bersungguh-sungguhlah ketika istisyaq (menghirup air ke dalam hidung), kecuali ketika kamu sedang puasa. (HR. Nasa’i 87, Abu Daud 142, Turmudzi 788 – hadis shahih) Imam Ibnu Baz ketika menjelaskan hadis ini, mengatakan, فأمره صلى الله عليه وسلم بإسباغ الوضوء ثم قال : (وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً) فدل ذلك على أن الصائم يتمضمض ويستنشق ، لكن لا يبالغ مبالغة يخشى منها وصول الماء إلى حلقه ، أما الاستنشاق والمضمضة فلابد منهما في الوضوء والغسل ؛ لأنهما فرضان فيهما في حق الصائم وغيره Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyempurnakan wudhu, kemudian beliau bersabda, ‘bersungguh-sungguhlah ketika istisyaq, kecuali ketika kamu sedang puasa’ ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa juga berkummur dan menghirup air ke dalam hidung. Hanya saja tidak boleh terlalu keras, karena dikhawatirkan akan ada air yang masuk kerongkongannya. Sementara istinsyaq dan berkumur tetap harus dilakukan dalam wudhu maupun mandi, karena keduanya merupakan kewajiban dalam wudhu, baik untuk orang yang puasa maupun lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawi’ah, 15/280) Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya, ‘Apakah berkumur tidak disyariatkan untuk wudhunya orang yang puasa?’ Jawab beliau, ليس هذا بصحيح، فالمضمضة في الوضوء فرض من فروض الوضوء، سواء في نهار رمضان أو في غيره للصائم ولغيره Kesimpulan ini tidak benar. berkumur ketika wudhu termasuk salah satu kewajiban dalam wudhu. Baik dilakukan di siang hari ramadhan atau waktu lainnya bagi orang yang puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, jilid ke-19, Bab: Pembatal-pembatal Puasa) Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits Read more https://konsultasisyariah.com/18804-wudhu-saat-puasa-2.html

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-27

ibadah itu privasi gk prlu publikasi rahasiakan ibadahmu seperti engkau mrahasiakan aib-aibmu.

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-26

🚧 KEWAJIBAN BERPUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PEMERINTAH ✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ 🌴 “Berpuasa adalah hari kalian berpuasa, berbuka (berhari raya idul fitri) adalah hari kalian berbuka dan berkurban (berhari raya idul adha) adalah hari kalian berkurban.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 224] 📝 #BEBERAPA_PELAJARAN: ✅ Pertama: Perintah Berpuasa dan Berhari Raya bersama Pemerintah Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits yang mulia ini adalah perintah berpuasa Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha bersama Pemerintah, dan bahwa Pemerintah yang berhak menentukan waktu dimulainya puasa dan hari raya. Al-Imam Abu Isa At-Tirmidzi rahimahullah setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkata, وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ : إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الصَّوْمُ وَالْفِطْرُ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعِظَمِ النَّاسِ “Sebagian ulama telah menafsirkan hadits ini, mereka berkata: Hanyalah makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka (berhari raya) bersama al-jama’ah (Pemerintah) dan kebanyakan manusia (tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok).” [Sunan At-Tirmidzi, 2/72] Al-‘Allaamah As-Sindi rahimahullah berkata, وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة “Dan nampak jelas bahwa makna hadits ini adalah, perkara-perkara ini (menentukan waktu puasa dan hari raya) tidak boleh ada campur tangan individu-individu dan tidak boleh bagi mereka untuk menetapkan keputusan sendiri, akan tetapi keputusannya diserahkan kepada pemimpin dan pemerintah, dan wajib bagi individu-individu untuk mengikuti keputusan pemimpin dan pemerintah.” [Haasyiatus Sindi ‘ala Ibni Majah, 1/509] ✅ Kedua: Renungan untuk Ormas yang Menggunakan Metode Hisab dan Menyelisihi Pemerintah Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang yang menentukan puasa dan hari raya dengan cara hisab dan tidak diakui pemerintah adalah tertolak. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah berkata, وَقِيلَ فِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ يَقُولُ إِنَّ مَنْ عَرَفَ طُلُوعَ الْقَمَرِ بِتَقْدِيرِ حِسَابِ الْمَنَازِلِ جَازَ لَهُ أَنْ يَصُومَ بِهِ وَيُفْطِرَ دُونَ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ “Dan dikatakan bahwa dalam hadits ini ada bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa siapa yang mengetahui kemunculan bulan dengan perkiraan hisab (perhitungan) tempat-tempat (posisi) bulan maka boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka tanpa diketahui orang lain.” [Tuhfatul Ahwadzi, 3/313] Terlebih lagi jika Pemerintah di suatu negeri diberikan taufiq oleh Allah ta’ala untuk menetapkan awal Ramadhan dengan cara yang sesuai syari’at, yaitu dengan cara melihat hilal, apabila hilal tidak terlihat maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari, sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya. ➡ Maka orang atau ormas yang menyelisihi keputusan pemerintah karena mengikuti metode hisab, mereka telah melakukan beberapa kesalahan: 1) Menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengikuti Pemerintah, maka tidak dibenarkan mengikuti keputusan ormas-ormas atau kelompok-kelompok tertentu dalam penetapan puasa dan hari raya. 2) Menetapkan awal Ramadhan dengan cara mengada-ada dalama agama, tanpa ada contoh dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu dengan cara hisab, padahal seharusnya dengan ru’yah hilal. 3) Apabila disertai dengan celaan terhadap pemerintah secara terang-terangan dengan dalih menasihati maka ini adalah cara menasihati kelompok ahlul bid’ah Khawarij yang menyelisihi syari’at. 4) Itu juga termasuk ghibah, yang merupakan dosa besar. ✅ Ketiga: Apabila Kesaksian Melihat Bulan Tidak Diakui Pemerintah Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang yang melihat hilal (bulan baru) namun kesaksiannya tidak diakui oleh Pemerintah maka tidak boleh baginya untuk berpuasa, menurut pendapat yang terkuat insya Allah. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah berkata, وَقِيلَ إِنَّ الشَّاهِدَ الْوَاحِدَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ وَلَمْ يَحْكُمْ الْقَاضِي بِشَهَادَتِهِ أَنَّ هَذَا لَا يَكُونُ هَذَا صَوْمًا لَهُ كَمَا لَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ “Dan dikatakan bahwa satu orang saksi yang melihat hilal dan kesaksiannya tidak diakui oleh hakim maka tidak boleh baginya berpuasa, sebagaimana tidak boleh juga bagi orang-orang.” [Tuhfatul Ahwadzi, 3/313] Al-‘Allaamah As-Sindi rahimahullah berkata, وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ “Oleh karena itu, apabila seseorang melihat hilal, namun Penguasa menolak persaksiannya, maka sepatutnya ia tidak memutuskan apa-apa dalam perkara-perkara ini, dan wajib baginya untuk mengikuti keputusan Pemerintah.” [Haasyitus Sindi ‘ala Ibni Majah, 1/509] ➡ Pendapat ini juga yang dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari tiga pendapat ulama berdasarkan hadits yang mulia ini, beliau berkata, يَصُومُ مَعَ النَّاسِ وَيُفْطِرُ مَعَ النَّاسِ وَهَذَا أَظْهَرُ الْأَقْوَالِ “Hendaklah orang yang melihat hilal tetap berpuasa dan berhari raya bersama manusia, inilah pendapat yang paling jelas (kebenarannya).” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/114-115] Karena pada hakikatnya yang dinamakan hilal apabila ia sudah terlihat dan diakui pemerintah, kemudian pemerintah menetapkannya dan tersebar beritanya di tengah-tengah masyarakat, jadi bukan sekedar melihat keberadaan hilal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فَإِنَّ الْهِلَالَ مَأْخُوذٌ مِنْ الظُّهُورِ وَرَفْعِ الصَّوْتِ فَطُلُوعُهُ فِي السَّمَاءِ إنْ لَمْ يَظْهَرْ فِي الْأَرْضِ فَلَا حُكْمَ لَهُ لَا بَاطِنًا وَلَا ظَاهِرًا وَاسْمُهُ مُشْتَقٌّ مَنْ فِعْلِ الْآدَمِيِّينَ يُقَالُ: أَهْلَلْنَا الْهِلَالَ وَاسْتَهْلَلْنَاهُ فَلَا هِلَالَ إلَّا مَا اُسْتُهِلَّ فَإِذَا اسْتَهَلَّهُ الْوَاحِدُ وَالِاثْنَانِ فَلَمْ يُخْبِرَا بِهِ فَلَمْ يَكُنْ ذَاكَ هِلَالًا فَلَا يَثْبُتْ بِهِ حُكْمٌ حَتَّى يُخْبِرَا بِهِ فَيَكُونُ خَبَرُهُمَا هُوَ الْإِهْلَالَ الَّذِي هُوَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْإِخْبَارِ بِهِ وَلِأَنَّ التَّكْلِيفَ يَتْبَعُ الْعِلْمَ فَإِذَا لَمْ يُمْكِنْ عِلْمُهُ لَمْ يَجِبْ صَوْمُهُ “Sesungguhnya hilal diambil dari makna azh-zhuhur (nampak jelas) dan raf’u ash-shout (mengangkat suara), maka kemunculannya di langit, apabila belum nampak di bumi; tidak ada hukum karenanya (tidak memberikan pengaruh pada penetapan awal dan akhir Ramadhan), tidak secara batin, tidak pula sacara zahir. Dan isim (kata benda) hilal adalah pecahan kata dari perbuatan (kata kerja) yang dilakukan oleh manusia, seperti dikatakan: Kami telah menyaksikan hilal dan melihatnya. Maka tidak ada hilal kecuali sesuatu yang telah jelas. Apabila satu atau dua orang telah melihatnya, namun mereka tidak mengabarkannya kepada manusia, maka itu bukan hilal, sehingga tidak ditetapkan hukum karenanya sampai mereka mengabarkannya kepada manusia, maka ketika itu barulah pengabaran mereka menjadi penampakan hilal yang merupakan rof’u ash-shout (mengangkat suara) dengan mengabarkan keberadaannya, dan karena pensyari’atan ibadah mengikuti ilmu, maka apabila belum memungkinkan untuk mencapai ilmunya (yaitu ilmu tentang awal Ramadhan), belum wajib mulai berpuasa.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/109-110] ✅ Keempat: Bagaimana Apabila Ijtihad Pemerintah Salah dalam Menetapkan Awal atau Akhir Ramadhan? Hadits yang mulia ini juga menununjukkan bahwa penetapan waktu puasa dan hari raya diserahkan kepada ijtihad pemerintah dengan cara yang benar, yaitu melihat bulan atau menyempurnakan bulan. Apabila mereka sudah berusaha untuk berijtihad dengan cara yang benar dan ternyata ijtihad mereka keliru maka tidak ada celaan atas mereka dan tidak perlu dipermasalahkan. Al-Imam Al-Khottabi rahimahullah berkata, مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ الْخِطَابَ مَوْضُوعٌ عَلَى النَّاسِ فِيمَا سَبِيلُهُ الِاجْتِهَادُ فَلَوْ أَنَّ قَوْمًا اجْتَهَدُوا فَلَمْ يَرَوُا الْهِلَالَ إِلَّا بَعْدَ الثَّلَاثِينَ فَلَمْ يُفْطِرُوا حَتَّى اسْتَوْفَوُا الْعَدَدَ ثُمَّ ثَبَتَ عِنْدَهُمْ أَنَّ الشَّهْرَ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَإِنَّ صَوْمَهُمْ وَفِطْرَهُمْ مَاضٍ وَلَا عَتْبَ عَلَيْهِمْ “Makna hadits ini bahwa penetapan awal puasa dan hari raya diserahkan kepada manusia (pemerintah) serta termasuk perkara yang ditetapkan melalui ijtihad. Andaikan satu kaum berijtihad, lalu mereka tidak melihat hilal kecuali setelah hari ke-30, lalu mereka tidak berbuka sampai menyempurnakan bulan menjadi 30 hari, kemudian ternyata di kemudian hari menjadi jelas bagi mereka bahwa bulan hanya 29 hari, maka puasa dan berbuka mereka telah berlalu dan tidak ada celaan atas mereka.” [Haasyiatus Sindi ‘ala Ibni Majah, 1/509-510] ✅ Kelima: Hikmah Menaati Pemerintah dalam Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan Diantara hikmah besar apabila seluruh kaum muslimin mengikuti keputusan Pemerintah dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan adalah mengokohkan persatuan kaum muslimin. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, لا شك أن اجتماع المسلمين في الصوم والفطر أمر طيب ومحبوب للنفوس ومطلوب شرعا حيث أمكن “Tidak diragukan lagi bahwa bersatunya kaum muslimin dalam puasa dan hari raya adalah perkara yang baik, dicintai oleh jiwa dan dituntut secara syari’at, apabila memungkinkan.” [Majmu Fatawa Ibni Baz, 15/74] وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه 8

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-26

Dari Kementrian Agama R.I Ijtima’ akhir bulan Sya’ban 1438 H. terjadi pada: Hari/Tanggal : Jum’at Legi, 26 Mei 2017 Waktu : 02.46.15 WIB. Tinggi hilal mar iy: 7°37 45” Tinggi hilal haqiqi : 8°38’26’’ (di atas 2°) Lama hilal : 00.34.34 Jam. Maka, 1 Ramadhan 1438 H. jatuh pada : Hari : Sabtu Pahing Tanggal : 27 Mei 2017 M. Insya Allah Tidak Ada Perbedaan awal Ramadhan antara Metode Ru yah dengan Hisab, karena tinggi hilal di atas 2° menurut semua system hisab, baik Tadqiqi, Tahqiqi, maupun Hisab Taqribi. Awal Puasa Muhammadiyah NU Pemerintah Kemenag RI 1 Ramadhan 1438 H / 2017 Sebagai berikut: Awal Puasa Muhammadiyah: Sabtu, 27 Mei 2017 Awal Puasa NU: Sabtu, 27 Mei 2017 Awal Puasa Kemenag RI / Pemerintah (Sidang Isbat): Sabtu, 27 Mei 2017 مرحبا يارمضان مرحبا شهرالصيام # Selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan 1438 H Minta Halal, Minta Ridho & Mohon Maaf Lahir dan Bathin#

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-24

Jangan main-main dengan AKIDAH Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319) Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-22

اِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ اَبْوَابُ النَّارِوَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ. Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukhari dan Muslim).

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-05-22

Yang belum baca TULISAN GILANG KAZUYA SHIMURA... Teruntuk dek Afi Nihaya Faradisa ========================== Dek Afi yang terhormat, kita emang gak bisa milih kita memeluk agama apa, karena kita didoktrin oleh orang tua kita. Tapi adek tau gak, kalau secara fitrah kita udah muslim? Adek gak tau? Makanya kakak kasih tau sekarang, ada kok hadits nya dek : Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau MajuR Bukhari 1296). Tugas manusia adalah mencari jati diri nya, makanya setiap manusia dikasih otak buat berpikir lewat tanda-tanda yang Allah kasih. Makanya kita yang muslim nyebut muallaf sebagbali ke fitarena sejati nya dia kembali ke jati diri nya yang asli. Masalah bersitegang, ah adek ini kayak anak SD aja, jangankan soal iman dek, soal artis korea aja masih pada ngotot siapa yang paling ganteng / cantik, apalagi soal prinsip. Agama itu prinsip hidup dek, kalau kita menganggap semua agama benar, apa beda nya dengan balita yang gak bisa bedain mana kacang mana kecoak? Soal islam agama yang benar, kan udah ada dek ayat nya di Al-Baqarah ayat 2, penegasan nya ada di surat Yunus ayat 37-38. Kakak berani taruhan, nggak ada ayat-ayat setegas ini di agama lain. Coba aja adek cek, kalau adek udah gak sibuk sama wawancara dari orang-orang yang (maaf) sok bijak. Maksud adek jangan sesekali menjadi Tuhan gimana dek? Karena kita melabeli orang sebagai kafir dan masuk neraka? Mungkin adek meradang sama mereka yang melabeli orang dengan sebutan kafir, tapi adek tau gak kalau mereka cuma mencocokkan identitas mereka dengan apa yang ada di Alquran? Gak ada beda nya dek sama petugas warnet yang disuruh pemilik warnet untuk melabeli tingkat pendidikan dari seragam yang dipakai, gak lebih. Tapi apa dengan itu si petugas langsung merasa jadi pemilik warnet? Nggak kan. Gak usah pake bayangkan dek, adek pernah baca Al-baqarah ayat 256 gak? Kalau iya, aneh kalau adek masih bilang islam memaksa orang lain pindah agama. Lagipula liat aja dek sejarah nya, agama mana yang paling suka memaksa orang lain memeluk agama mereka ketika mereka menjadi mayoritas, buka mata dan jadilah orang dewasa dek. Semua orang berhak mengklaim agama mereka yang terbaik, gak ada yang larang kok, wong iklan detergen aja bilang produk mereka yang terbaik. Tapi masalahnya, sejauh mana akal pikiran kita dipakai buat mencari kebenaran yang paling benar, bukan kebenaran atas dasar pingin tenar. Balik lagi ke tantangan yang kakak sebutkan diatas, adakah agama lain yang punya ayat setegas Al-Baqarah ayat 2? Label neraka atau surga, itu juga gak lebih kayak guru yang bilang ke murid nya yang pemalas bahwa dia gak bakalan naik kelas. Logis toh? Gimana cara nya naik kelas kalau belajar aja nggak? Sama kayak label neraka, gimana mau masuk surga kalau sama Allah aja gak percaya? Tidak ada dek yang meragukan kekuasaan Tuhan, tapiiii... Baca lagi ya dek sejarah nya, Allah gak pernah membuat agama lain selain Islam, orang-orang dhalim lah yang memutar balikkan fakta menjadi agama-agama baru yang beraneka ragam. Itu juga jadi salah satu bukti kekuasaan Allah & salah satu bentuk ujian di dunia untuk makhluk-Nya. Makanya banyak baca ya dek, mumpung masih muda :) Soal kerukunan dek, kita bandingin aja yuk arab saudi vs italia, negara yang mewakili dua agama terbesar di dunia, di negara mana terjadi lebih banyak kriminalitas? Mohon bandingin nya pake akal sehat yah dek, jangan pake kebencian terhadap kaum bergamis. Yang nama nya mayoritas, wajar kok kalau mereka menerapkan hukum mereka, analogi nya, di rumah adek, yang berlaku adalah adat istiadat di keluarga dek Afi kan? Kalau semisal ada orang lain yang ujug-ujug dateng ke rumah adek dan maksa keluarga adek ikutin adat istiadat dia, apa adek mau terima? Adek kayaknya beneran gak tau ya sejarah pancasila? Clue nya jelas dek, sila ke satu apa? Agama apa yang sepaham dengan sila ke satu? Adek harus tau, bahwa dasar negara kita yang paling inti diambil dari Alquran, bukan dari injil, weda, tripitaka atau kitab lain nya. Makanya kakak aneh liat tulisan adek yang bilang dasar negara gak boleh dari salah satu agama. Tanah yang kamu pijak itu juga bisa terbebas dari penjajah atas jasa para ulama dan santri loh dek, apa coba kitab panutan mereka? Yang jelas bukan komik Doraemon. Suatu hari nanti kakak akan menceritakan kepada keturunan kakak bahwa ada banyak oknum bertulisan seperti bijak yang aslinya bahkan nggak ngerti apa arti bijak itu sendiri. Orang-orang yang menginginkan situasi yang sangat fana dan diluar jangkauan realitas hanya karena ingin diterima oleh berbagai pihak. Kakak harap dek Afi gak masuk sebagai jajaran oknum itu :) Terakhir, kakak mau menukil quote dari Abdullah bin Mas ud :u itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata, tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuari hamba Allah yang masih mencari ilmu.

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2017-01-22

ISLAM ATAU ARAB ?? Tulisan ini untuk mengajak umat muslim Indonesia lebih kritis dalam memahami tentaAM dan ARAB dengan kebudayaannya, sehingga kita tidak terperangkap dalam kesesatan pemikiran yang sempit tenta L . Menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab, maAMISlas-jelas berbeda dengBIS2. Islam itu bukan ajaran Arab, walaupun : » Al-Qur an berbahasa Arab, » dan Nabi Muhammad dari kaum Arab. Islam itu Jalan Hidup , Prinsip Hidup bukan keyakinan orang Arab. 3. Faktanya... » Turunnya ajaran Islam justru ditentang oleh kaum Arab di masa itu karena Islam datang mengubah » Tradisi, » Keyakinan, » Kebiasaan jahiliyah orang-orang Arab. 4. Islam datang kepada kaum Arab membawa Tatanan yang Baru sama sekali, baik dalam hal » Tradisi, » Kebiasaan, » Akhlak, » Hukum, » dan juga Cara Hidup. 5. Perlu dicatat... ! Karena Al-Qur an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab, maka Bahasa Arab juga tidak bisa dipisahkan dari Agama Islam karena Kitab Sucinya adalah berbahasa Arab. 6. Juga sebuah kewajaran bahwa Agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana. 7. Mengenai tokoh-tokoh besar Agama Islam ini adalah orang Arab itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal yang beragama Islam. 8. Jadi bisa dikatakan : » Arab belum tentu Islam, » dan Islam tidak harus Arab, » yang jelas itu islam harus berdasarkan Al-qur an dan As-Sun. Juga salah besar, bila dikatakan bamisasi sama dengan Arabisantas menolak Islamisasi dengan dalih, Indonesia, bukan A10. Apa bedanya? Jelas beda sekali, menjadi Arab atau bukan Arab itu adalah TAKDIR , sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu adalah PILIHAN 11. Islam itu ya Islam!!! Tidak perlu ada pandangan :ana Islam Arab, disini Islam Nusantini pandangan yang mungkin niatnya baik tetapi justru berpotenECAH BELAH ISebaiknya dihindari..!! 12. Islam itu ya Islam!!! Panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaur Rasyidin dan juga Tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Salaf, apapun Madzhabnya. 13. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal. » Bila bertentang dengan Islam tinggalkan saja... » dan bila tidak silahkan dilanjutkan. 14. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim? Ya AQIDAH, bila bertentangan dengan Aqidah, ya mutlak harus ditinggalkan. 15. Misalnya seperti budaya » Membuka Aurat, » Menyembah pohon, ya harus tinggalkan.! Beda dengan » Arsitektur, » Aneka Makanan (halal), ya boleh dilanjutkan. 16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja tetapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya. 17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja tetapi menyembah batu dan patung harus dihapuskan. 18. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, maka : *Islam yang harus diutamakan* 19. Maka di dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain Aqidah, boleh saja diadopsi termasuk teknologi juga karena termasduk non-aqi20. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik. 21. Kesimpulannya... » Belajarlah Islam, » Kaji terus Islam, jangan berhenti, » Taati Allah dan Rasulullah semata, » karena kita akan kembali kepada-Nya. 22. Kesimpulan lain, jadi Muslim kamu » gak harus pakai sorban, » gak harus berjubah, » yang jelas Pikiranmu, Lisanmu, Amalanmu, Harus ber-Azas Islam. 23. Jangan sampai terbalik, » kamu pakai sorban, » pakai sarung, » mengenakan peci, jubah, tetapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. 24. Lebih bagus kamu memakai » Batik, » Kemeja, » Kaos, » Celana, lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua berdalil : abullah dan Sun 25. Lebih bagus lagi, kamu memakai peci, memakai sarung, mengenakan sorban, berjubah dan semua pikiran, lisan, amalmu, azasnya Kitabullah dan Sunnah, itu. Jadi di dalam Agama Islam *Aqidah dan Akhlak-lah* yang harus diutamakan... bukan simbol ... Semoga bermanfaat..

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2016-12-11

WORO-WORO..!!!!!! HADIRILAHH...pengajian akbar dalam rangka maulid nabi MUHAMMAD S.A.W. Malam nanti di halaman masjid agung syahdatuttholibin wiramastra.. Seperti biasa sebelumnya akan di adakan acara karnaval/dayakan. #wiramastradayakanmaning.

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2016-12-04

Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulilahirobbil alamin desa wiramastra insya allah akan mngadakan pengajian akbar dalam rangka maulid nabi muhammad saw,dan seperti biasa sebelumnya akan di selenggarakan arak-arakan/dayakan. Bagi warga wiramastra di mohon partisipasinya untuk meramaikan acara tersebut. #WIRAMASTRADAYAKANMANING NB: SING NANG PERANTAUAN NDANG BALI,SING ORA TEYENG BALI YA JALUK DONGANE BAE BEN LANCAR SYUKUR2 SI KARO NYUMBANG DUIT.

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2016-10-04

{3 Macam Kesabaran}.Di antara perkara yang dianjurkan dalam Islamadalah sabar. Sabar secara bahasa artinyatertahan, sebagaimana perkataan Jabir.ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْﻳُﻘْﺘَﻞَ ﺷَﻲْﺀٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﺏِّ ﺻَﺒْﺮًﺍ.Dari Jabir ia berkata: “Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam melarang membunuh binatangdengan cara ditahan.” (HR. Muslim).Dalam hadits di atas terdapat kata ﺻَﺒْﺮً yangmenjadi akar kata dari sabar. Adapun secaraistilah, sabar adalah menahan diri dalammelaksanakan sesuatu dan menjauhi sesuatu..Sehingga definisi sabar akan tercakup dalam 3macam kesabaran yang akan kita bahas padapoin berikut ini..1. Sabar dalam melaksanakan taat kepada.AllahSebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan.ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻼﺓِ ﻭَﺍﺻْﻄَﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ.“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikanshalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya.” (QS. Thaha: 132).2. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan.Hal inilah yang terjadi pada Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau diajak berzina oleh istri seorangal-‘aziz di tempat yang sudah aman lagi tertutuprapat, sehingga tidak mungkin ada orang yangtahu. Selain itu, istri al-‘aziz juga memilikikekuasaan dan kekuatan terhadap Yusuf, namunYusuf mampu menghidari ajakan berzina dariseorang wanita yang cantik, padahal dia sendiriadalah seorang pemuda yang masih belia,sehingga sangat mudah untuk tergodamelakukan zina..3. Sabar dalam menerima takdir Allah.Sabar jenis yang ketiga adalah dalam menerimatakdir yang Allah berikan. Allah Ta’ala berfirman.ﻓَﭑﺻْﺒِﺮْ ﻟِﺤُﻜْﻢِ ﺭَﺑِّﻚ.َ“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan)ketetapan Rabbmu.” (QS. Al-Insan: 24).Silahkan LIKE & SHARE jika dirasabermanfaat.....

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2016-09-12

Hari ini bukan hanya si kaya yang bisa makan daging tpi semua lapisan masyarakat dpat menikmtinya. Itulah indahnya islam,itulah indahnya ied adha,itulah indahnya berkurban. Taqoballohu mina waminkum.

@PP.Anahrawi syahdatuttholibin 2016-07-11

Persiapan pengajian halal bi halal @masjid agung syahdatut tholibin wiramastra


See more learning institutes near Jenggawur

About

Tempatnya ♈ãπç mau belajar lebih dalam tentang agama islam..

Parking

Lot Parking No
Street Parking No
Valet Parking No

Suggestions

Yayasan Tanbihul Ghofiliin Banjarnegara

Jl. Raya Mantrianom Km 07 Banjarnegara 53471, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53471
Education, College & University, Public & Government Service

SD Negeri 1 Sokanandi

Jln. Tentara Pelajar No.33 Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53413
Elementary School

Daerah Banjarnegara

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53463
College & University

TKJ SMK N 1 Wanayasa

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53457
High School, Organization

SMP N 5 Bawang

Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53471
Junior High School, College & University


Privacy Policy